PROPERTY INSIDE – Penelitian terbaru dari konsultan properti global JLL, menyebut bahwa inisiatif smart city di Asia Pasifik harusnya tidak hanya berfokus pada penyediaan teknologi mutakhir saja tanpa memperhatikan kebutuhan warga.
Selin itu, teknologi juga diharapkan dapat menjembatani kesenjangan antara solusi smart city dengan ruang fisik di mana orang bekerja, tinggal, dan bermain. Sebanyak 30 ahli dari teknologi, real estat dan pemerintah, yang menjadi narasumber laporan tersebut mengungkapkan tantangan yang dihadapi ditengah meningkatnya jumlah kota pintar di Asia Pasifik dan di seluruh dunia.
Penelitian ini juga menyoroti peluang untuk pendekatan yang lebih berpusat pada manusia untuk pengembangan kota pintar, yang mempromosikan inklusivitas, efisiensi, keberlanjutan, dan transparansi.
Baca juga: Pengembang Properti Tiongkok Reposisi Jadi Perusahaan Teknologi
Direktur Riset Global JLL, Jeremy Kelly, mengatakan Kota-kota dengan teknologi seperti Internet of Things dan Inteligensi Buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk menyelesaikan beberapa masalah urbanisasi yang mendesak, sperti masalah lalu lintas atau pembuangan limbah atau keselamatan publik.
“Ini memiliki potensi untuk mengubah cara kita hidup dan bekerja, serta bagaimana kita berinteraksi dengan bangunan dan infrastruktur di kota-kota kita. Inovasi-inovasi ini memiliki harapan khusus di Asia Pasifik di mana populasi kota tumbuh pesat, “kata Kelly seperti dilansir WorldPropertyJournal, Jumat (12/7).
Baca juga: Apa Itu PropTech ?
China memiliki lebih dari 500 kota pintar dalam pipeline, sementara pemerintah India memiliki rencana lima tahun untuk pengembangan 100 kota pintar antara 2017 dan 2022. Singapura sedang mengembangkan program Smart Nation Vision, yang diluncurkan pada 2014.
Pada tahun 2018, dana investasi ASEAN-Australia senilai $ 23 juta diumumkan untuk mendukung kota-kota pintar di Asia Tenggara. Namun, meski lebih dari 1.000 inisiatif kota pintar telah diumumkan di seluruh dunia, hanya 15 yang memiliki strategi komprehensif yang mencakup target terperinci.
Dari jumlah tersebut, hanya delapan yang menawarkan rencana konkret yang siap diimplementasikan. Laporan tersebut mengkaji alasan mengapa begitu banyak proyek kota pintar berjalan lambat.
Baca juga: TOD Bukan Tren, Tapi Kebutuhan Peradaban
Birokrasi adalah salah satu batu sandungan utama. Mengingat bahwa kota besar dan kompleks, inisiatif smart city hanya dapat berhasil jika pemerintah terbuka untuk bereksperimen dan mau menginvestasikan waktu dan sumber daya dalam belajar dari kesalahan langkah.
“Kami percaya real estat dapat menjadi penghubung antara orang-orang yang merupakan sumber kehidupan kota dan infrastruktur digital yang semakin memperkuat lingkungan perkotaan kita. Sudah saatnya industri real estat untuk meningkatkannya, “tambah Kelly.
Laporan JLL juga mengidentifikasi beberapa area di mana penerepan teknologi di industri properti (proptech) dapat membuat dampak seperti itu. Dari tahap konstruksi hingga manajemen fasilitas, proptech membawa manfaat nyata dalam bentuk peningkatan efisiensi bagi penghuni bangunan dan peningkatan nilai bagi investor.




