PROPERTY INSIDE – Tahun 2017 lalu, tingkat pertumbuhan atas demand ruang perkantoran mencatat kinerja yang positif meski tingkat hunian dan harga sewa mengalami penurunan. Tingkat permintaan perkantoran meningkat di triwulan keempat tahun 2017.
Dalam riset JLL Indonesia untuk pasar perkantoran 2017, disimpulkan bahwa kondisi ini setidaknya mampu memberi kesan bahwa industri properti mulai bangkit kembali, meski tahun 2017 dianggap sebagai tahun yang berat untuk industri properti tanah air khususnya sektor perkantoran.
Head of Markets JLL Indonesia, Angela Wibawa mengatakan permintaan terhadap ruang perkantoran selama tahun 2017 mengalami tingkat pertumbuhan yang bisa dikatakan cukup bagus walaupun tingkat hunian dan harga sewa masih mengalami penurunan.
“Dengan tingkat permintaan mencapai ±240,000 sqm untuk CBD dan ±115,000 sqm untuk Non-CBD, tingkat hunian masih belum membaik dikarenakan jumlah pasokan yang signifikan sepanjang tahun. Tingkat hunian rata-rata CBD yang saat ini berada di angka 80% dan Non-CBD yang berada di 76% diyakini akan mengalami lanjutan penurunan di tahun yang akan datang,” jelas Angela dalam konfrensi pers, Rabu (07/02) di Jakarta.
Namun demikian, lanjut Angela, sejumlah sektor yang tetap aktif seperti IT, serviced office / coworking space, insurance, dan professional services diperkirakan masih akan membawa pengaruh positif terhadap pasar perkantoran.
Sementara itu, untuk sektor residensial, aktivitas penjualan pasar kondominium cenderung stabil dengan tingkat serapan yang berada di angka 63 persen di kuartal keempat tahun 2017. Permintaan terbesar datang dari pasar kondominium kelas menengah dan menengah kebawah.
Luke Rowe, Head of Residential JLL Indonesia menyebut, sepanjang tahun 2017, pengembang masih tetap aktif untuk meluncurkan proyek – proyek terbarunya terutama di kelas menengah kebawah dengan konsentrasi proyek yang berada di area Jakarta Barat dan Timur.
“Selain itu, produk apartemen yang berdekatan dengan infrastruktur pendukung seperti LRT dan MRT yang juga akan menjadi nilai tambah dan daya tarik tersendiri bagi konsumen dalam menentukan pilihan,” jelas Luke.
Sedangkan untuk sektor retail, JLL Indonesia menyebut bahwa Food & Beverage (F&B) merupakan yang paling aktif dalam berekspansi. Bahkan pola ekspansi dari F&B tidak terbatas hanya sepanjang pusat perbelanjaan, namun juga berkembang di area residensial dan gedung perkantoran. Tingkat hunian juga masih stabil berada di angka 89 persen mengindikasikan bahwa tidak ada perubahan signifikan sepanjang tahun berjalan.
“Adanya diskusi mengenai belanja online yang mempengaruhi penjualan toko secara bertahap sudah diantisipasi oleh para pengembang pusat perbelanjaan premium untuk membuat komposisi tenant yang lebih menarik dan mampu menarik masyarakat untuk mengunjungi pusat perbelanjaan,” jelas Cecilia Santoso, Head of Retail JLL Indonesia.
James Taylor, Head of Research JLL Indonesia menambahkan, selain sektor retail F&B, tahun 2017 juga mencatat sektor pergudangan modern masih merupakan sektor yang cukup diminati baik oleh investor maupun pasar, khususnya penyedia jasa logistik, FMCG, dan e-commerce.
Country Head JLL Indonesia, Todd Lauchlan menyimpulkan bahwa secara umum, tahun 2017 mampu memberikan kesan bahwa bisnis properti di Indonesia masih menarik. Hal ini terlihat dari tingkat permintaan yang mulai membaik. Sejumlah investasi properti khususnya pada sektor perkantoran mulai direalisasikan yang terlihat dari banyaknya gedung yang selesai dibangun dan mulai beroperasi.
“Tahun 2017 tercatat sebagai record year dari segi pasokan. Kami melihat sejumlah investor dari beberapa negara asia seperti Jepang, RRT, Hong Kong, dan Singapura masih menunjukkan minat yang cukup tinggi untuk berinvestasi pada sektor properti di Indonesia, khususnya sektor logistik dan residensial. Menjelang tahun politik, diharapkan realisasi investasi tidak terganggu sehingga tetap stabil,” jelas Todd.
Dengan pertumbuhan ekonomi diatas 5 persen pada tahun ini, industi properti diharapkan dapat terus meningkat pada tahun-tahun mendatang. Didukung juga dengan pembangunan infrastruktur dan perbaikan peringkat kemudahan berbisnis, pengembang bisnis properti harus dapat memanfaatkan momentum.
“Pengembang harus semakin cermat dalam melihat peluang dan membaca permintaan pasar, namun juga tetap waspada menjelang memasuki tahun politik,” jelas Vivin Harsanto, Head of Advisory JLL Indonesia.








