PROPERTY INSIDE – Dalam beberapa hari terakhir ini, Indonesia mendapat ujian berat berupa rentetan teror bom dan penyerangan markas Brimob. Pemerintah, dan aparat kemanan telah bekerja cepat mengendalikan kejadian luar biasa ini.
Namun, apakah rentetan peristiwa tersebut berimbas pada sektor properti? Hal ini tentu menjadi pertanyaan penting mengingat sektor properti sedang dalam masa pemulihan setelah beberapa saat lalu mengalami tren perlambatan.
Direktur PT Metropolitan Land, Tbk (Metland), Wahyu Sulistio menyebut bahwa sektor properti tidak terpengaruh secara langsung dari peristiwa-peristiwa teror tersebut.
“Impact teror bom ini tidak berpengaruh langsung pada sektor properti, secara psikologis memang ada imbasnya tapi tidak signifikan karena ini hanya dampak sementara.”
“Di saat demand belum terlalu kuat dan sedang recovery terjadi kejadian seperti ini, pasti ada dampak tapi itu hanya sesaat,” kata Wahyu kepada www.PropertyInside.id, Selasa (15/5) di Jakarta.
Baca juga: “Jangan Remehkan Millenial Belum Punya Rumah”
Namun dirinya mengakui bahwa sektor perhotelan sebagai sub-domain dari sektor properti akan berdampak karena beberapa negara telah mengeluarkan kebijakan travel advice bagi warga negara mereka yang akan berpergian ke Indonesia.
Secara teknis, menurut Wahyu dampak lebih signifikan pada sektor properti di tahun ini kemungkinan disebabkan pada kemungkinan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI 7 days repo rate (BI 7DRR).
“Kenaikan suku bunga acuan ini berdampak pada kenaikan suku bunga KPR, dan ini sensitif karena sebagian besar konsumen properti masih mengandalkan KPR sebagai opsi bayar,” ujar Wahyu.
Lebih lanjut Wahyu mengatakan, tahun 2018 Metland mematok pertumbuhan di angka 10%. “Kami tetap optimis, dengan target konservatif di angka 10% kami melihat kondisi sekarang masih on the track.”
Senada dengan Wahyu, Asst Vice President Marketing – PT Agung Podomoro Land, Tbk, Alvin Andronicus menyebut efek dari peristiwa teror ini tidak membuat para pelaku bisnis dan investor properti menjadi takut.
Baca juga: Cibubur – Cileungsi Kian Sexy
Secara psikologis personal, menurut Alvin, kejadian ini memang berimbas, tapi secara bisnis, bagi para pelaku pasar dan investor di sektor properti, kejahatan segelintir teroris ini tidak serta merta membuat mereka takut.
“Apalagi kita lihat pemerintah dan aparat keamanan sangat serius menangani ini, Presiden sendiri telah menegaskan akan mengeluarkan Perppu jika RUU Antiteror belum juga disahkan.”
“Bagi developer dan pelaku bisnis, ini adalah indikator positif, artinya pemerintah sangat serius menangani ini,” jelas Alvin.
Alih-alih takut dengan teror, para pelaku industri properti lebih khawatir dengan dampak dari pelemahan Rupiah terhadap Dollar, karena imbasnya berpengaruh pada pasokan pasar primer yang menggunakan produk-produk impor.
“Kita tahu Amerika sedang kuat, perbaikan ekonomi mereka sedang berjalan, Rupiah tertekan terhadap Dollar, sementara ekonomi kita sebagian besar masih mengacu pada mata uang mereka.”
“Ini berhubungan dengan cost, tapi pengembang tidak bisa serta merta menaikkan harga, harus memperhatikan juga buying power masyarakat.”
Baca juga: Bangun Hunian Mewah, Dar Al Arkan Gandeng Rumah Mode Italia
Alvin juga mengaku pihaknya tetap optimis bahwa bisnis properti tetap bertumbuh di tahun 2018 ini. “Kami di Agung Podomoro Land tetap optimis tahun ini bertumbuh. Kami optimis 3 proyek baru yang kami luncurkan di tahun ini akan menopang pertumbuhan perusahaan,” ujarnya.
Sementara itu, GM Marketing & Sales Jakarta Garden City, Hyronimus Yohanes mengatakan, meski terjadi rentetatn peristiwa teror seperti ini, pihaknya tetap optimis.
Terbukti mereka sama sekali tidak memundurkan jadwal launching Cleon Park Apartment, apartemen pertama di kawasan Jakarta Garden City.
“Kami sebagai pengembang tetap optimis, kami tetap meluncurkan Cleon Park Apartment pada tanggal 19 – 20 Mei besok. Kami yakin pasar akan tetap merespon supply,” jelas Hyronimus.








