Libur Lebaran, Kunjungi 7 Destinasi Wisata Arsitektur Keren di Sumatera ini

PROPERTY INSIDE – Mudik lebaran, selain bersilaturahmi ke sanak famili sepertinya tidak lengkap juga jika kita tidak berkunjung ke tempat-tempat wisata di kampung halaman. Bagi Anda yang mudik lebaran ke Sumatera, destinasi wisata alam tentu menjadi pilihan menarik mengisi libur lebaran ini.

Namun, perlu dicatat bahwa selain destinasi wisata alam, berpelesir mengunjungi bangunan-bangunan bersejarah bisa juga menjadi pilihan menarik. Di Sumatera banyak sekali bangunan bersejarah yang meninggalkan jejak arsitektur hebat.

Berikut 7 bangunan bersejarah dengan arsitektur indah di Sumatera yang mencatatkan langkah peradaban bangsa kita yang patut dikunjungi;

Baca juga: Mahakarya Agung Arsitektur Candi Indonesia

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Lokasi museum ini awalnya adalah lokasi Kuta Lama, istana tua Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758), penguasa Kesultanan Palembang . Setelah penghapusan Kesultanan Palembang , istana Kuta Lama dihancurkan oleh pemerintah kolonial Inggris pada 7 Oktober 1823.

Penghapusan Kesultanan adalah bentuk hukuman yang dibuat oleh pemerintah kolonial Inggris, meskipun ini mungkin adalah gerakan politik untuk menghapus kedaulatan Kesultanan dari kota.   Setelah pembongkaran Kuta Lama, pada tahun 1823, sebuah gedung baru dibangun di atas reruntuhan.

Bangunan pertama selesai pada tahun 1824 dan diberi nama Gedung Siput (“bangunan siput”). Kemudian bangunan itu dibangun kembali ke dalam gedung yang saat ini berdiri di situs tersebut. Bangunan baru adalah bangunan batu dua lantai yang dibangun dengan memadukan gaya Eropa dengan arsitektur tropis Hindia, berfokus pada gaya rumah tradisional Palembang.

Pada tahun 1825, gedung itu digunakan sebagai kantor untuk penduduk kolonial. Pada 1920-an, bangunan direnovasi dengan penambahan lebih banyak kaca.

Baca juga: 7 Kota dengan Arsitektur Terindah di Planet Bumi

Candi Muara Takus, Kampar

Candi Muara Takus terletak di desa Muara Takus, Kecamatan Tigabelas Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Propinsi Riau. Jaraknya dari Pekanbaru, Ibukota Propinsi Riau, sekitar 128 Km. Candi Muara Takus merupakan candi Buddha, terlihat dari adanya stupa, yang merupakan lambang Buddha Gautama.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa candi ini merupakan campuran dari bentuk candi Buddha dan Syiwa. Pendapat tersebut didasarkan pada bentuk bentuk Candi Mahligai, salah satu bangunan di kompleks Candi Muara takus, yang menyerupai bentuk lingga (kelamin laki-laki) dan yoni (kelamin perempuan).

Arsitektur candi ini juga mempunyai kemiripan dengan arsitektur candi-candi di Myanmar. Candi Muara Takus merupakan sebuah kompleks yang terdiri atas beberapa bangunan. Bangunan yang utama adalah yang disebut Candi Tuo. Candi ini berukuran 32,80 m x 21,80 m dan merupakan candi bangunan terbesar di antara bangunan yang ada.

Letaknya di sebelah utara Candi Bungsu. Pada sisi sebelah timur dan barat terdapat tangga, yang menurut perkiraan aslinya dihiasi stupa, sedangkan pada bagian bawah dihiasi patung singa dalam posisi duduk.

Baca juga: Kekayaan Arsitektur Nusantara; Rumah Gadang Minangkabau

Jam Gadang, Bukittinggi

Terletak di pusat kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Menara jam ini memiliki jam dengan ukuran besar di empat sisinya sehingga dinamakan Jam Gadang, sebutan bahasa Minangkabau yang berarti “jam besar”.

Jam Gadang selesai dibangun tahun 1926, pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Jam berbentuk menara ini menghabiskan biaya sekitar 3000 gulden. Arsitekturnya dirancang oleh Yazid Rajo Mangkuto, orang Indonesia asli dari suku Minangkabau sendiri.

Jam Gadang memiliki denah dasar seluas 13 x 4 meter dengan ketinggian 26 meter, menara ini memiliki beberapa tingkat di dalamnya, tingkat teratas merupakan tempat penyimpanan bandul. Terdapat 4 jam dengan diameter 80 cm pada pada masing-masing jam.

Mesin jam yang kini menjadi landmark Kota Bukittinggi, Sumatera Barat itu hanya ada 2 unit di dunia, satu lagi adalah Big Ben, landmark Kota London. Mesin jam ini dibuat oleh Vortmann Relinghausen, seperti tertera pada bagian lonceng jam.

Baca juga: 313 Tahun Menjadi Masjid Terbesar Dunia, Inilah Keindahan Arsitektur King’s Mosque

Istana Basa Pagaruyung, Tanah Datar

Istano Basa yang berdiri sekarang sebenarnya adalah replika dari yang asli. Istano Basa asli terletak di atas bukit Batu Patah dan terbakar habis pada sebuah kerusuhan berdarah pada tahun 1804. Istana tersebut kemudian didirikan kembali namun kembali terbakar tahun 1966.

Terletak di kecamatan Tanjung Emas, kota Batusangkar, kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. istano Basa ini berjarak lebih kurang 5 KM dari pusat kota Batusangkar. Istana ini merupakan objek wisata budaya yang terkenal di Sumatera Barat.

Istana Pagaruyung terdiri dari tiga lantai, lantai pertama berupa ruangan luas yang memajang berbagai benda dalam etalase, kamar-kamar, dan sebuah singgasana dibagian tengah. Jika Istana Pagaruyung dilihat dari luar, maka akan tampak bangunan yang memanjang dengan bagian yang lebih tinggi diujung kanan dan kirinya.

Bagian ini disebut sebagai anjuang. Anjuang adalah salah satu ciri khas rumah adat Koto Piliang. Anjuang yang berada di sebelah kanan disebut sebagai anjuang Rajo Babandiang sedangkan yang di sebelah kanan disebut anjuang Perak. Anjuang ini adalah ruang kehormatan bagi keluarga kerajaan.

Pada bagian tengah terdapat 7 kamar tidur untuk anak raja yang sudah menikah. Anak yang paling tua menempati kamar yang paling kanan, begitu seterusnya sampai anak yang termuda menempati kamar yang berada paling kiri. Tepat ditengah ruangan, persis di depan pintu masuk terdapat sebuah singgasana yang disebut sebagai Bundo Kanduang karena yang duduk di sana memang ibunda raja.

Baca juga: 7 Fakta Keren Istiqlal, Masjid Merdeka Kebanggaan Indonesia

Kantor Pos Besar, Medan

Di Eropa, desain bangunan seperti pada Kantor Pos Besar Medan dikenal dengan nama arsitektur modern fungsional (art deco geometrik). Jenis arsitektur ini merupakan generasi ketiga setelah arsitektur klasik yang hadir sebelum 1910 dan arsitektur neo-klasik (art deco ornamental) sebelum 1920. Kedua jenis arsitektur terakhir juga pernah digunakan Belanda dalam pembangunan beberapa bangunan yang mereka kontrak di Medan.

Bangunan bergaya geometris rata-rata dibangun sebelum 1935. Jika melihat waktu berdiri kantor pos pada 1911, diperkirakan ia merupakan bangunan era pertama yang menggunakan arsitektur geometris di Medan. Oleh karena itu juga, tak banyak ditemukan bangunan tua dengan gaya arsitektur serupa di kota ini.

Salah satu ciri khas bangunan zaman dulu adalah keberadaan langit-langitnya yang lebih tinggi. Begitu pun lampu dan kipas angin yang terpasang dengan pegangan yang panjang, seperti di beberapa ruangan kantor pos.

Bangunan ini memiliki luas 1200 meter persegi, dengan tinggi mencapai 20 meter. Kantor pos yang terdapat di jantung kota Medan ini juga merupakan ikon kota Medan. Bangunan yang di dominasi dengan warna putih dan orange, yang merupakan identitas Pos Indonesia ini memiliki bentuk kubah yang unik.

Baca juga: Percaya atau Tidak? Arsitektur Menakjubkan ini Berada di Korea Utara

Rumah Tjong A Fie, Medan

Gaya arsitektur campuran budaya Tiongkok kuno, Eropa dan Melayu berpadu membentuk sebuah harmoni yang sedap dipandang diterapkan dengan sangat elegan pada rumah ini. Rumah Tjong A Fie ini adalah salah satu ikon dan simbol sejarah multi etnis di kota Medan.

Rumah Tjong A Fie dibangun pada tahun 1895 dan selesai pada tahun 1900. Gerbang rumah yang megah ini “dijaga” dua patung singa, pintu masuk dihiasi ukiran kayu yang cantik. Burung phoenix dari potongan keramik warna-warna bertengger manis di atas gerbang.

Rumah ini sendiri terbuka untuk umum, menjadi museum sejak tahun 2009, tepat pada saat peringatan 150 tahun kelahiran Tjong A Fie, sang pemilik. Bangunan cagar budaya nasional seluas 6000 m/square membawa kita ke era Baba dan Nyonya, seolah memasuki mesin waktu yang membawa kita ke awal tahun 1900-an.

Tjong A Fie Masion berlokasi di Jl.A.Yani, Medan atau lebih dikenal dengan sebagai kawasan Kesawan. Luas bangunan mansion diperkirakan 4.000 m2 dengan 35 ruangan. Beragam interior mulai dari klasik cina, eropa, dan retro menghiasi tiap ruangan. Mengajak pengunjung melintasi era yang sudah dilalui bangunan ini.

Beberapa bagian ruang memang dibuka untuk umum, namun bangunan di sayap kanan tertutup karena ditempati oleh keturunan Tjong A Fie. Di bagian ruang makan warna-warna terang seperti merah, hijau dan biru mendominasi. Langit-langitnya penuh lukisan tangan bernilai seni tinggi, berpadu dengan lampu gantung khas Eropa. Pernak pernik jamuan makan bernuansa Cina Melayu.

Baca juga: 10 Kota dengan Harga Properti Termahal di Dunia

Museum Tsunami, Banda Aceh

Dirancang oleh Ridwan Kamil, museum ini dimaksudkan sebagai monumen simbolis untuk bencana gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004 sekaligus pusat pendidikan dan tempat perlindungan darurat andai tsunami terjadi lagi.

Museum ini merupakan sebuah struktur empat lantai dengan luas 2.500 m² yang dinding lengkungnya ditutupi relief geometris. Di dalamnya, pengunjung masuk melalui lorong sempit dan gelap di antara dua dinding air yang tinggi, untuk menciptakan kembali suasana dan kepanikan saat tsunami.

Dinding museum dihiasi gambar orang-orang menari Saman, sebuah makna simbolis terhadap kekuatan, disiplin, dan kepercayaan religius masyarakat Aceh. Dari atas, atapnya membentuk gelombang laut. Lantai dasarnya dirancang mirip rumah panggung tradisional Aceh yang selamat dari terjangan tsunami.

Bangunan ini memperingati para korban, yang namanya dicantumkan di dinding salah satu ruang terdalam museum, dan warga masyarakat yang selamat dari bencana ini.

Share this news.

Leave a Reply