Bisnis Properti 2019: Antara Pasar, Konsep Produk dan Sunset Property

By 15 January 2019Featured, Property News

PROPERTY INSIDE – Bahasan tentang bagaimana bisnis properti di tahun ini (2019) kebanyakan berkutat seputaran hajatan politik yang sedikit banyak akan mengganggu laju bisnis sektor ini.

Nada optimis tetap mendominasi, karena hajatan politik bukan pertama kali dilakukan di Indonesia. “Kita sudah terbiasa, bahkan sampai saat krisis ekonomi di ujung tahun 90-an kita kembali bangkit hingga kini,” ucap  F Rach Suherman, Konsultan Properti dari F Suherman Management.

Lelaki murah senyum ini mengatakan, paska pilpres atau memasuki semester II, developer akan banyak melemparkan produknya ke pasar.

Baca juga: Indra Widjaja Antono: Properti Sedang Masuk Pit Stop

“Semua segmen produk, yang produk premium pun akan kembali meramaikan pasar properti,”tegasnya saat dihubungi www.propertyinside.id (15/01) melalui sambungan telepon.

Menurutnya, segmen kelas menegah-bawah dengan rentang harga Rp700 juta ke bawah tak terganggu dengan hajatan politik. Karena menurut Suherman, segemen ini memiliki pasar yang kuat namun dalam memasarkannya harus dengan strategi yang matang.

Ditanya produk seperti apa yang akan mendapat respon positif dari konsumen, Suherman mengatakan bahwa developer harus bisa merubah konsep produk yang berbeda dan sesuai kebutuhan pasar.

Baca juga: Tiga Proyek Highrise Groundbreaking di Januari, Properti Batam Makin Ramai

Selain itu naiknya harga tanah juga harus direspon dengan konsep produk yang inovatif, , dimensi produk dan tentunya potensi pasar dengan memperhatikan kebutuhannya.

Produk-produk tersebut menurut Suherman harus bisa mengikuti pasar yang juga berubah dengan cepat. “Kalau tidak produk properti tersebut akan masuk pada area sunset property, ditinggalkan karena sudah tak menarik,” tegasnya.

Antara Produk dan Sunset Property

Menurut Suherman, produk yang konvensional dan tak memiliki daya tarik akan memasuki fase sunset property.

Menurutnya, properti itu ada pada produk dan pasarnya. Apakah produk yang ditwarkan bisa mengkuti permintaan pasar atau malah sebaliknya.

Baca juga: 4 hari Pertama 2019, Royal Sentraland Catatkan Penjualan Positif

Seperti kondotel, menurutnya dibeberapa lokasi sudah tidak menarik minat konsumen karena investasi yang ditawarkannya. Seperti di Bali, beberapa tahun lalu, di 2010 banyak produk kondotel berani memberikan return on investment (ROI) hingga 12% selama 7 tahun.

“Tapi saat ini kebanyakan hanya 8% dan hanya dalam waktu 2 tahun dan tahun berikutnya tidak pasti angkanya,” tegas Suherman.

Nah beberapa kondotel menurut Suherman sudah merubah cara jualannya. Caranya dengan menjual 1 unit yang bisa dibeli oleh beberapa orang. “Cara ini sudah banyak dilakukan di Negara berkembang, dan tentunya ini akan lebih menarik minat konsumen karena menjadi investasi bersama dan lebih murah,” jelasnya.

Baca juga: Arkana, Unit Premium Synthesis Residence Kemang dengan Sentuhan Teknologi

Kemudian properti perkantoran, menurut Suherman office tower yang grade C harus segera berbenah seiring kebutuhan pasar yang lebih ingin memiliki ruang kantor yang simple, nyaman namum memliki kelengkapan fasilitas.

“Apalagi ruang perkantoran di kawasan premium, pasokan banyak dan harganya juga sudah tinnggi. Maka persaingannya sangat ketat,”ujarnya.

Sementara, properti berkonsep town house yang banyak menjamur dibeberapa kawasan pinggiran Ibu Kota dan daerah penyangga Jakarta belakangan ini menurut Suherman juga akan tergerus.

Baca juga: Asosiasi Broker AS: Shut Down Pemerintah Ganggu Penjualan Real Estat

Kenapa demikian, harga lahan sudah mahal, sehingga harga unitnya juga menjadi mahal.”Harus dirubah konsepnya, bisa menjadi lowrise apartment yang ketinggiannya bisa 4-6 lantai dan jumlah unitnya juga akan lebih banyak.

“Ini akan lebih menaikan nilai produk. Beberapa developer juga sudah mlai bermain pada konsep ini. Lahan mini namun memiliki nilai maksimal dan pasarnya cukup potensial, karena lebih privacy,” tegas Suherman.

Nah, yang terakhir adalah properti berkonsep fashion mal sudah banyak ditiggali. Pergeseran konsep sudah banyak terjadi, yang orientasi pasar dengan konsep kuliner dan lifestyle lebih diminati.

Baca juga: Kota Jababeka, Diuntungkan Pasar Yang Kuat Di Dalam Kawasannya

Proyek mal dengan konsep biasa saja maka akan ditinggalkan konsumen. Selain itu anchor tenant sebagai icon dan daya tarik dalam memilih mal lebih memilih pada proyek yang memiliki konsep kuat.

“Selain itu, mal saat ini bersaing dengan aplikasi belanja online. Jadi dalam mengembangnkan mal harus hati-hati, perhatikan lokasi, komunitas disekitarnya dan tentunya konsep,” kata Suherman.

Suherman menjelaskan, dalam mengembangkan produk properti diperlukan kehati-hatian bukan semata melihat pasar ada tapi kebutuhan, keinginan pasar tidak bisa terpenuhi.

 

Share this news.

Leave a Reply