PROPERTY INSIDE – Industri properti di Asia Pasifik pada tahun 2019 diprediksi akan bertumbuh hingga 5%. Ada 5 tren yang membentuk perkembangan industri properti di kawasan global ini.
Konsultan properti global, JLL dalam keterangan tertulisnya mencatat tren yang akan bergerak di tahun ini meliputi pertumbuhan aset-aset yang berkaitan dengan kehidupan, pengembangan ruang kerja fleksibel, pertumbuhan pusat logistik & data, perubahan eksposur hutang, dan evolusi kota pintar.
Pertumbuhan aset-aset yang berkaitan dengan “kehidupan”.
Penambahan jumlah penduduk perkotaan di wilayah ini menyebabkan meningkatnya permintaan akan perumahan alternatif, termasuk akomodasi bagi pelajar, hunian bersama, hunian multi-keluarga, panti jompo serta rumah perawatan bagi para lansia.
Bagi para investor, sektor yang berkaitan dengan kehidupan ini menawarkan hasil yang menarik serta prospek pertumbuhan jangka panjang dan peluang diversifikasi portofolio.
“Sektor-sektor baru ini siap untuk mengalahkan investasi di bidang aset perumahan tradisional terkait dengan sifatnya dalam penggunaan ruang yang efisien, manajemen bangunan yang unggul, serta imbal hasil yang umumnya lebih tinggi,” jelas Head of Capital Markets JLL Asia Pasifik, Stuart Crow.
“Panti jompo, misalnya, menawarkan keuntungan antara 11 hingga 14 persen di Tokyo, dan 8 hingga 12 persen di Singapura,” sebut Crow.
Mengembangkan ruang kerja fleksibel.
Semakin banyak perusahaan yang menggunakan ruang kerja bersama sebagai suatu cara untuk mengembangkan inovasi di antara para karyawan dan memenangkan persaingan dalam merekrut karyawan berbakat.
Fokus baru dalam meningkatkan pengalaman sumber daya manusia ini telah menyebabkan peningkatan dalam penggunaan ruang kantor yang fleksibel – termasuk co-working dan serviced offices – di seluruh wilayah.
Dr Megan Walters, Head of Asia Pacific Research JLL mengatakan, pada tahun 2030, ruang kerja yang fleksibel akan mencapai 30 persen dari portofolio beberapa perusahaan-perusahaan properti komersial di seluruh dunia.
Ini berarti konsolidasi pasar akan semakin sering terjadi seperti misalnya pemilik properti serta pengembang akan mulai menawarkan ruang fleksibel milik mereka sendiri.
Cara lainnya yaitu membentuk usaha bersama dengan perusahaan co-working, atau dapat dilihat dari merger dan akuisisi yang terjadi antara perusahaan-perusahaanco-working.”
Bertambah banyaknya pusat logistik dan data
Dengan semakin meningkatnya peran Asia Pasifik sebagai pemimpin dalam e-commerce global, tuntutan bagi organisasi-organisasi untuk mendirikan infrastruktur penyimpanan data serta memiliki fasilitas pergudangan untuk barang-barang fisik ritel.
Pasar gudang logistik modern telah berkembang selama beberapa tahun terakhir di Indonesia dan para investor akan terus menampung permintaan pengguna baik dari sektor e-commerce, grup perusahaan barang konsumen, perusahaan-perusahaan logistik pihak ketiga serta pabrikan.
Kawasan superblok Podomoro City.
Tingkat okupansi tetap tinggi namun pasar kekurangan pasokan – terutama di wilayah Jabodetabek dan Surabaya. Sementara itu, pasar pusat data masih belum matang di Indonesia namun ada kemungkinan pasar ini mengalami pertumbuhan yang cepat karena sudah ada beberapa grup perusahaan internasional yang mulai mengukur kemungkinan mereka untuk masuk ke pasar tersebut.
Perubahan terhadap eksposur utang
Beberapa bank semakin memperketat persyaratan pinjaman mereka, hal ini akan menimbulkan celah bagi pemberi pinjaman non-bank dan asing untuk memasuki pasar, khususnya di Australia, India dan Cina.
Akibatnya, akan semakin banyak investor yang beralih ke pemberi pinjaman luar negeri yang menawarkan bentuk-bentuk utang atau ekuitas yang lebih fleksibel untuk proyek-proyek tertentu.Demikian pula, investor institusi juga memperluas kegiatan mereka ke utang real estate.
“Investasi utang adalah salah satu cara untuk mengurangi resiko dalam portofolio dan semakin banyak investor yang mencari cara untuk menggunakan utang dalam melindungi mereka dari volatilitas pasar serta anjloknya pendapatan dari bidang properti,” jelas Crow.
Evolusi kota pintar
Dengan terus digaungkannya inisiatif kota pintar di Singapura, Jepang, Korea Selatan dan Australia, Asia Pasifik mulai merasakan semakin meningkatnya kebutuhan untuk membangun infrastruktur digital yang lebih baik untuk memaksimalkan efisiensi, keberlanjutan serta untuk meningkatkan kondisi kehidupan penduduk.
“Proptech akan memainkan peran kunci dalam pengembangan kota di masa depan. Karena kota pintar sangat tergantung pada data, maka pengembangan dan pengelolaan properti cerdas kemungkinan akan membutuhkan pengumpulan dan analisis data yang sangat luas,” ungkap Walters.








