PROPERTY INSIDE – Wajah kawasan Podomoro Golf View yang berada di bibir jalan tol Jagorawi perlahan kian kentara. Progres finishing 3 blok tower yang merangkum 4.500 unit apartemen ini siap diserah terimakan pada pemiliknya April mendatang.
Kawasan Podomoro Golf View (PGV) yang dikembangkan PT Agung Podomoro Land Tbk. diperkirakan akan dihuni sekitar 60 ribu jiwa dan dalam pengembangannya dilengkapi stasiun LRT (light rail transit), park and ride, serta feeder untuk kendaraan umum.
“Nantinya Stasiun LRT di PGV merupakan bagian dari Transit Oriented Development (TOD) Gunung Putri yang menjadi bagian dari stage kedua pengembangan LRT ke Sentul, dan selanjutnya jalur LRT akan sampai ke Baranangsiang, Bogor,” tegas Alvin Andronicus Assistant Vice President PT Agung Podomoro Land Tbk..
Baca juga: Serah Terima Kunci 4300 Unit di April, PGV Andalkan Konsep Transfer Point
Saat ini bangunan setinggi 5 lantai yang merupakan gedung Transfer Point sedang dikembangkan untuk menjadi staisun LRT di PGV dan beberapa moda transportasi lainnya. “Sehingga kawasan PGV yang nantinya akan dihuni sekitar 60 ribu orang akan sangat dimudahkan dalam beraktivitas.
“Sehingga dengan fasilitas yang ada, penghuni maupun masyarakat sekitar dapat memanfaatkannya dan akan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi,” imbuh Alvin saat acara diskusi Peran Kota Satelit Sebagai Kota Penyangga di kantor marketing PGV, Cimanggis, Depok, Jawa barat.
Upaya lainnya adalah dengan menyediakan seluruh kebutuhan masyarakat di PGV, mulai dari pendidikan, kesehatan, wisata, dan sebagainya, sehingga diharapkan meminimalisir perjalanan ke luar kawasan.
Baca juga: Indra Widjaja Antono: Properti Sedang Masuk Pit Stop
Sementara itu Yayat Supriatna, Pengamat Perkotaan mengatakan bahwa peran developer dalam mambangun sebuah kawasan tak dipungkiri memberikan kontribusi dalam perkembangan kawasan tersebut. Seperti Podomoro Golf View yang berada di pinggir jalan tol tentunya akan mudah dikases oleh kendaraan pribadi.
Namun menurut Yayat, PGV malah memberikanfasilitas Transfer Point untuk memudahkan masyarakat dalam beraktivitas menggunakan angkutan umum. “Dengan moda transportasi bus, dari kawasan PGV ke pusat kota hanya membutuhkan waktu 25 menit maka proyek ini memberikan pilihan kepada masyarakat untuk meggunakan angkutan umum,” jelas Yayat.
Namun menurut Yayat, dalam hal ini, pengelola PGV harus berani memberikan subsidi. “Masyarakat akan berhitung, berapa biaya meggunakan tarnsportasi umum. Apakah semakin boros atau malah semakin hemat,” ujar yayat.
Baca juga: Dekati Pasar, Opus Park Buka Kantor Pemasaran di Kelapa Gading
Menurutnya, tarif adalah faktor menentukan karena masyarakat akan merasionalkan cara mereka melakukan perjalanan. Apakah menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum dan ujungnya tetap biaya yang menjadi faktor penentunya.
Transfer Point, jadi fasilitas andalan transportasi umum di Podomoro Golf View.
Untuk itu swasta atau developer yang saat ini banyak membangun hunian di kawasan penyangga Ibu Kota harus berani memberikan fasilitas angkutan umum seperti bus yang langung menuju pusat aktivitas di Jakarta. Atau juga tekoneksi dengan angkutan umum seperti commuterline atau pun LRT, ini tentunya akan menaikan nilai properti.
Sementara itu, Direktur Prasarana Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), Heru Wisnu Wibowo menjelaskan, sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2018, penanganan transportasi Jabodetabek dituangkan dalam Rencana Induk Transportasi Jabodetabek (RITJ).
Baca juga: Curi Start, Orchard Village Bukukan Penjualan Positif
“Sebagai implementasi, Presiden Joko Widodo membentuk BPTJ sebagai instansi yang memilik tugas dan fungsi mengintegrasikan penyelenggaraan transportasi di Jabodetabek,” tegas Heru.
Indikator kinerja utama BPTJ adalah mengupayakan pergerakan orang dengan angkutan umum mencapai 60% dari total pergerakan orang. “Indikator lainnya adalah waktu perjalanan asal tujuan maksimal 1,5 jam pada masa puncak, kecepatan rata-rata 30 km/jam pada masa puncak, cakupan pelayanan angkutan umum 80% dari panjang jalan di perkotaan,,” imbuhnya.
Selain itu tersedianya akses pejalan kaki ke angkutan umum maksimal 500 meter, setiap daerah punya feeder yang terintegrasi, serta fasilitas pejalan kaki dan park and ride dengan jarak perpindahan antarmoda 500 meter.
Baca juga: Uji Coba MRT, Transjakarta Ambil Peran dengan Membuka Rute Baru
Untuk itu, kota penyangga disekitar Ibu Kota berperan melalui dukungan untuk mengakomodasi pergerakan masyarakat dengan pengembangan kawasan yang berorientasi transit pada masing-masing kota penyangga.
Nah, penyediaan Transfer Point di kawasan merupakan hasil rekomendasi teknis BPTJ untuk mengurangi penggunaan kendaraan, kemacetan jalan dan polusi udara.
Transfer point tersebut telah diresmikan oleh BPTJ pada April tahun lalu. Transfer Point di PGV diharapakan mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke sarana transportasi publik.








