Masjid Agung Banten, Masjid Tertua Indonesia Karya Arsitek Tiongkok

By 28 April 2020Architecture

PROPERTY INSIDE – ‎Masjid Agung Banten adalah salah satu masjid tertua di Indonesia. Masjid ini dibangun pertama kali pada 1556 oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), sultan pertama dari Kesultanan Banten. Beliau adalah putra pertama dari Sunan Gunung Jati.

Keunikan dari bangunan masjid ini adalah atap bangunan utama yang bertumpuk lima, mirip pagoda Tiongkok, ini menjadi ciri khas dari bangunan masjid selain menaranya yang berbentuk mercusuar.

Baca juga: Hassan II Mosque, Indahnya Arsitektur Masjid Dengan Menara Tertinggi Di Dunia

Masjid ini dirancang oleh Tjek Ban Tjut, seorang arsitek Tionghoa, jadi wajar saja jika desain arsitekturnya banyak mengadopsi gaya bangunan di Tiongkok. Dua buah serambi yang dibangun kemudian menjadi pelengkap di sisi utara dan selatan bangunan utama.

Di masjid ini juga terdapat kompleks pemakaman sultan-sultan Banten serta keluarganya. Yaitu makam Sultan Maulana Hasanuddin dan istrinya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Abu Nasir Abdul Qohhar. Sementara di sisi utara serambi selatan terdapat makam Sultan Maulana Muhammad dan Sultan Zainul Abidin, dan lainnya.

Masjid Agung Banten sebelum revitalisasi

Masjid Agung Banten sebelum revitalisasi.

Masjid Agung Banten juga memiliki paviliun tambahan yang terletak di sisi selatan bangunan inti Masjid ini. Paviliun dua lantai ini dinamakan Tiyamah. Berbentuk persegi panjang dengan gaya arsitektur Belanda kuno, bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek Belanda bernama Hendick Lucasz Cardeel.

Baca juga: 313 Tahun Menjadi Masjid Terbesar Dunia, Inilah Keindahan Arsitektur King’s Mosque

Menara yang menjadi ciri khas Masjid Banten terletak di sebelah timur masjid. Menara ini terbuat dari batu bata dengan ketinggian kurang lebih 24 meter, diameter bagian bawahnya kurang lebih 10 meter. Semua berita Belanda tentang Banten hampir selalu menyebutkan menara tersebut, membuktikan menara itu selalu menarik perhatian pengunjung Kota Banten masa lampau.

Lukisan Masjid Agung Banten Tempo Doeloe

Lukisan Masjid Agung Banten Tempo Doeloe.

Untuk mencapai ujung menara, ada 83 buah anak tangga yang harus ditapaki dan melewati lorong yang hanya dapat dilewati oleh satu orang. Pemandangan di sekitar masjid dan perairan lepas pantai dapat terlihat di atas menara, karena jarak antara menara dengan laut yang hanya sekitar 1,5 km.

Dahulu, selain digunakan sebagai tempat mengumandangkan adzan, menara yang juga dibuat oleh Hendick Lucasz Cardeel ini digunakan sebagai tempat menyimpan senjata.

Share this news.

Leave a Reply