Perkembangan Arsitektur Masa Romanesque & Masa Gothic (Serie Arsitektur Abad Pertengahan – Part 2)

By 11 January 2021Architecture

Masa Romanesque

Arsitektur masa ini ditandai dengan lengkungan setengah lingkaran pada atap bangunan. Periode Romanesque berlangsung pada zaman kegelapan “Dark Ages”, sehingga tidak banyak hasil karya arsitektur yang benar-benar mencirikan masa ini.

Pada umumnya arsitektur Romanesque merupakan padu-padan antara desain masa Romawi dengan ide-ide dari agama Kristen. Sehingga dapat dikatakan karya yang dihasilkan merupakan fitur dari bangunan Romawi dengan gaya arsitektur Bizantium.

Struktur atau elemen arsitektur dan interior Romawi ikonik yang paling umum diterapkan adalah Roman Arch. Arch merupakan struktur lengkung yang diterapkan pada dinding bangunan sebagai bukaan, hampir selalu berbentuk setengah lingkaran.

Arsitektur Romanesque ditandai dengan pelengkung berujung pada kubahnya. Yang paling umum adalah barrel vault (bentuk kubah paling sederhana) dan groin vault serta ribbed vault yang kemudian berkembang pada masa Gothic.

Dikenal dengan bentuk yang masif, bangunan ini terdiri atas tembok-tembok tebal dengan round arches, dan pilar yang kokoh. Secara keseluruhan tampilan bangunan terlihat sederhana dan memiliki bentuk yang tegas, teratur, dan denah simetris.

Menara dengan atap kerucut membuat bangunan tampak hampir seperti benteng. Di bagian dalam terdapat semi-circular arches yang menjadi pembeda dan penanda bangunan Romanesque.

Interior Romanesque didominasi oleh warna abu-abu gelap dan coklat tua. Langit-langit berkubah berat biasanya terbuat dari batu. Namun mayoritas bangunan memakai atap dari kayu dengan penopang sederhana. Furnitur bangunan pun terlihat sederhana dan terkesan ‘kotor’.

Arkade atau deretan arch yang ditopang oleh pier atau kolom yang terdapat di interior Romanesque, memisahkan bagian nave dan aisle. Tidak hanya sebagai fungsi struktural, kolom-kolom (colonnettes) yang ada pada bangunan juga berguna sebagai unsur dekoratif.

Pada prinsipnya bagian atas kolom atau yang disebut dengan capital, bertonggak bulat dengan bagian atas persegi dengan figur ukiran dedaunan. Kemudian berkembang dengan bentuk figur gambar kisah Al-Kitab, figur orang suci, dan figur monster atau binatang.

Bca juga: Perkembangan Arsitektur Masa Kristen Awal & Masa Bizantium (Serie Arsitektur Abad Pertengahan – Part 1)

Leuven Town Hall__

Leuven Town Hall

Masa Gothic

Arsitektur Gothic merupakan perwujudan keyakinan Kristen lebih modern dari periode-periode sebelumnya. Gothic berkembang dari arsitektur Romanesque. Berasal dari abad ke-12 hingga 16 di Perancis membuatnya juga dikenal sebagai “Opus Francigenum” (Gaya Perancis).

Arsitektur Gothic sering kali diterapkan pada sebagian besar bangunan katedral, biara dan paroki gereja-gereja di Eropa. Sehingga pada abad pertengahan katedral menjadi bangunan penting bagi sebuah komunitas atau kota di Eropa.

Namun orang yang membuat Katedral bukanlah orang-orang setempat melainkan tukang batu profesional yang mengerjakan proyek dari satu kota ke kota lain.

Tiga karakteristik yang membedakan Gothic dari arsitektur masa Romanesque adalah lengkungan runcing (pointed arch), kubah bertulang, dan penopang layang (flying buttress). Bagian depan katedral dibuat menjulang dan megah dengan struktur bangunan yang tinggi (vertikal).

Lengkungan runcing (pointed arch) pada interior bangunan Gothic berfungsi menahan beban dari desain langit-langit bangunan yang sangat berat dan tebal. Bentuk runcing pada lengkungan tidak hanya disebabkan keinginan masyarakat untuk menciptakan atap runcing sebagai arsitektur vernakular Eropa, namun juga karena tuntutan cuaca di Eropa saat musim dingin agar salju tak menumpuk pada atap bangunan.

Pada katedral bernuansa Gothic terdapat bukaan-bukaan lebar yang membuat cahaya alami menyelimuti ruangan sehingga interior bangunan menjadi terang-benderang.

Terdapat pula rose window. Selain sebagai estetika, pencahayaan pada bangunan Gothic melalui rose window digunakan sebagai simbol firman Tuhan sebagai sinar yang masuk dan menerangi hati jemaat gereja.

Berbeda dengan Romanesque yang mengandalkan triforium untuk menyangga bangunan, arsitektur Gothic mengandalkan sistem flying buttress. Flying buttress merupakan balok miring yang melayang dan menopang serta menyalurkan beban ke bawah memperkuat bangunan yang sekaligus juga berfungsi sebagai estetika.

Bagian luar bangunan Gothic diperkaya hiasan patung-patung monster (gargoyle) yang berfungsi sebagai drainase atau tampungan air hujan. Air yang disalurkan keluar melalui mulut Gargoyle menjauhi bangunan, bertujuan agar bagian luar bangunan tidak cepat terkikis.

Share this article:

Leave a Reply