Mentawai, Surga Selancar Dunia Di Sumatera

By 25 February 2018Life Style, News

PROPERTY INSIDE – Mentawai adalah nama sebuah kepulauan terletak ±150 km di Samudra Hindia yang terdiri dari kelompok pulau utama yaitu Pulau Siberut, Sipora, Kepulauan Pagai Utara, dan Kepulauan Pagai Selatan (masing-masing memiliki pulau-pulau kecil) yang dihuni oleh masyarakat suku Mentawai di lepas pantai Sumatra Barat, sekaligus nama kabupaten, ibu kotanya berada di Tuapejat. Kabupaten ini terbagi menjadi empat kecamatan dan 40 desa.

Pulau Mentawai populer dengan gulungan ombaknya yang sangat digemari para peselancar. Oleh berbagai organisasi selancar, ombak di Mentawai dinilai sebagai terbaik ketiga sejagat setelah Hawaii dan Tahiti.Disebutkan pula bahwa pulau Mentawai mempunyai 400 surf spot, bagi yang tidak bisa surfing, jangan khawatir, karena selain ombak yg bagus untuk surfing, disana pantainya juga indah.

alt text

Selain cantik, Mentawai juga berperan penting bagi konservasi. Sejak tahun 1981, Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) menetapkan Pulau Siberut di Mentawai sebagai salah satu cagar biosfer sehingga keberadaannya harus dilindungi dan dijauhkan dari eksploitasi.

Keeksotisan Siberut ditambah adanya empat primata endemik Mentawai, yaitu simakobu atau monyet ekor babi (Simias concolor), bilou atau siamang kerdil (Hylobates klosii), joja atau lutung mentawai (Presbytis potenziani), dan beruk mentawai (Macaca pagensis). Belum lagi kita dapat menikmati desa adat yang memiliki pria-pria bertatto yang merupakan simbol kearifan lokal suku Mentawai. Konon kabarnya, tatto asli Mentawai ini termasuk seni rajah tubuh tertua di dunia.

Namun, berbagai keunggulan itu seolah belum mampu membuat negara untuk melihat Mentawai secara lebih serius. Fasilitas umum seperti kesehatan dan pendidikan di daerah kaya itu umumnya masih terbengkalai. Aliran listrik dan jalan amat terbatas. Akibatnya lebih jauh, warga tidak hanya belum memiliki panduan yang jelas untuk mengelola daerahnya.

Sejumlah aset di daerah itu juga mulai dikelola orang asing, seperti resor mewah di sejumlah lokasi selancar. Tanah resor itu masih milik warga Mentawai. Namun, karena tidak tahu dan tidak memiliki modal untuk mengelolanya, lalu disewakan ke orang asing. Sudah ada turis Kanada yang menawarkan diri untuk memberikan modal menata air terjun Kulu Kubuk yang ada di daerah tersebut.

Sayangnya lagi akses menuju ke Mentawai juga sangat sulit bagi para pelancong yang tidak memiliki kapal sendiri. Jika ingin berhemat, kita harus berangkat dengan kapal motor dari pelabuhan Bungus, yang hanya berangkat pada hari-hari tertentu. Pelabuhan ini dapat ditempuh kurang lebih setengah jam dari pusat kota Padang dengan menggunakan angkutan umum.

alt text

Jadwal keberangkatan dari Bungus ke Sipora (Tua Pejat) setiap hari Minggu, jam 20.00 WIB. Dari Bungus ke Sikakap setiap hari Selasa jam 20.00 WIB, sedangkan yang menuju pulau Siberut berangkat setiap hari Kamis dengan jam keberangkatan yang sama.

Jika ingin melancong ke Mentawai untuk melihat para peselancar meliuk-liuk memainkan ombak atau memang ingin mencoba sendiri ombak Mentawai, disarankan untuk datang di bulan Juli dan Agustus. Saat itu ketinggian ombak di Mentawai mencapai 7 meter. Pada bulan-bulan tersebut banyak kapal-kapal yatch para peselancar dari Australia berlabuh di Mentawai. Di Mentawai, selancar biasanya dilakukan di Pulau Nyangnyang, Karang Majat, Masilok, Botik, dan Mainuk.

Jangan lupa untuk bertandang ke desa-desa adat disini untuk menikmati bagaimana kehidupan tradisional penduduk asli, melihat pembuatan tatto asli Mentawai. Untuk memandu perjalanan Anda, carilah guide lokal yang bisa dijumpai di pelabuhan. Selamat menikmati pesona alam dan keindahan budaya di Bumi Sikerei, Mentawai.

alt text

Share this news.

Leave a Reply