Generasi Millenial, Golden Market Sektor Properti

PROPERTY INSIDE – Suatu sore seusai Lebaran Idul Fitri lalu, Leisar (36 tahun) tercenung memandangi brosur promosi rumah di depan kantor marketing sebuah perumahan di bilangan Depok. Dirinya nampak kebingungan menentukan pilihan tempat tinggal untuk keluarga kecilnya.

“Harga dan lokasi perumahan ini sepertinya cocok buat saya, konsep desainnya juga oke. Masalahnya uang muka yang harus dibayar cukup tinggi, sementara tadi peminatnya banyak sekali, khawatir juga nanti bakal kehabisan, sedangkan saya masih harus mengumpulkan kekurangan DP-nya,” kata Leisar.

Permasalahan seperti yang dialami Leisar sangat jamak terjadi belakangan ini. Generasi millenial tua (30-39 tahun) yang sedang berupaya memiliki rumah pertama sering kali terbentur masalah uang muka dan persaingan mendapat tempat tinggal yang sesuai kebutuhan urban lifestyle mereka.

Baca juga: “Jangan Remehkan Millenial Belum Punya Rumah”

Persaingan para generasi millenial mendapat tempat tinggal yang ideal memang menjadi suatu keunikan tersendiri. Apalagi memasuki tahun-tahun puncak bonus demografi Indonesia, dimana Badan Pusat Statistik Indonesia memperkirakan tahun 2020 Indonesia akan memiliki jumlah usia produktif dari generasi millenial dan generasi z sebesar 32% dari penduduk Indonesia.

Kebutuhan hunian generasi millenial (20-39 tahun) tentu juga menjadi sorotan. Bagaimana generasi millenial, mulai mencari cara untuk memenuhi salah satu dari tiga kebutuhan pokok tersebut sesuai dengan mind set mereka.

Pengembang swasta, sebagai instrumen arus utama penyedia/produsen hunian di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir terlihat mulai membidik segmen pasar ini. Berbagai cara dan strategi pemasaran diaplikasikan demi menarik minat konsumen generasi millenial ini.

Baca juga: Rusunawa Bisa Jadi Pilihan Generasi Millenial

“Segmen millenial ini adalah golden market, karena pangsa pasarnya sangat besar. Namun perlu banyak startegi kreatif dan pemahaman tentang kebutuhan millenial ini. Pengembang tidak bisa sembarangan membangun, harus disesuaikan dengan kebutuhan mereka,” ungkap William Liusudarso, Direktur Easton Urban Kapital, salah satu pengembang yang menyasar segmen ini.

William menjelaskan, generasi millenial ini tergolong kritis dalam memilih tempat tinggal. Mereka tidak asal memilih, apalagi generasi millenial kelas menengah yang memperhatikan lokasi dan juga konsep desain yang ditawarkan pengembang.

“Biasanya generasi millenial kelas menengah ini mencari tempat tinggal yang lokasinya tidak jauh dari pusat kota. Mereka tidak mau urban lifestyle mereka terganggu jika harus tinggal jauh dari pusat kota Jakarta,” ungkapnya kepada www.PropertyInside.id Kamis (05/07) di Jakarta.

Baca juga: Problematika Perumahan Tak Pernah Berubah Sejak Dekade 50an

Tidak hanya itu, generasi ini juga sangat memperhatikan konsep desain yang ditawarkan pengembang. Bagi mereka konsep desain yang berbeda dan modern menjadi kebanggaan tersendiri. “Berbeda adalah pride bagi millenial, mereka lebih suka ruang-ruang terbuka, sangat memperhatikan estetika bangunan.”

“Segmen millenial ini adalah golden market, karena pangsa pasarnya sangat besar. Namun perlu banyak startegi kreatif dan pemahaman tentang kebutuhan millenial ini.”

William Liusudarso – Direktur Easton Urban Kapital

“Selain itu, permasalahan mendasar millenial untuk memiliki rumah adalah uang muka, agak sulit mengumpulkan uang muka yang terkadang pada akhirnya beralih pada kebutuhan konsumtif mereka, jalan-jalan ke luar negeri misalnya,” jelas William.

Meski saat ini Bank Indonesia telah mengeluarkan kebijakan relaksasi Loan to Value (LTV), William beranggapan kebijakan hingga nol DP tidak akan banyak membantu. Bahkan, menurutnya jika perbankan menerapkan tanpa uang muka, hal ini akan menjadi bumerang bagi perbankan sendiri.

Baca juga: Catat, Mulai 1 Agustus Pembeli Rumah Pertama Bisa Ajukan KPR Tanpa DP

“Moderatnya di angka 5% sampai 10%, karena jika tanpa DP sama sekali dipastikan NPL (Non Performance Loan) akan tinggi. Maka kembali lagi, pengembang juga harus kreatif memberi solusi dengan cicilan DP misalnya,” ungkap jebolan Finance Faculty dari Ohio State University, AS ini.

Lebih lanjut William menjelaskan, pengembang yang menyasar segmen market millenial sangat banyak. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pengembang untuk bersaing menciptakan produk yang sesuai dengan target mereka.

“Sampai 10 tahun ke depan siklusnya masih seperti ini, asalkan tidak ada force majeure, seperti perang, bencana alam, dll.  Bonus demografi kita untuk usia produktif millenial ini peluang besar sekali, ini yang harus dikemas secara kreatif bagaimana menangkap peluangnya.”

Baca juga: Catat..!! Proptech Menyediakan Marketing Tools, Bukan Meniadakan Agen Properti

Sebagai perusahaan properti yang masih muda, Easton Urban Kapital berupaya menciptakan produk-produk hunian yang kreatif. Kelebihan mereka, pengelola perusahaan ini juga masih muda-muda, William sendiri termasuk bagian dari generasi millenial. Karena itu mereka dapat lebih memahami kebutuhan segmen market ini.

Contohnya, salah satu produk mereka adalah Cornerstone House, Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan yang mengedepankan inovasi dan kreativitas. Unit rumah ini luas tanahnya 82 m2, dan bangunan 125 m2 dengan konsep 2 lantai. Lantai dua mengakomodasi 3 kamar tidur yang luas, terdiri dari satu kamar tidur utama dan dua kamar tidur anak. Menariknya, 2 kamar tidur anak tersebut terintegrasi satu sama lain.

Sementara pada lantai dasar menerapkan konsep open space. Ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan dan dapur disatukan tanpa sekat. Inilah yang menyebabkan ruangan terlihat luas. Tak cuma luas, cahaya matahari berebut memasuki ruang lantaran bukaan kaca yang lebar di bagian depan. Selain itu ini akan membuat penggunaan energi listrik menjadi lebih minimalis.

Baca juga: Cornerstone, Rumah Nyaman dengan Sentuhan Kreativitas

“Dengan konsep seperti ini, pasar akan merespon dengan baik. Terbukti sejak diluncurkan pada Maret lalu, 28 unit rumah yang kami pasarkan saat ini hanya tersisa 1 unit saja.”

Saat ini Easton Urban Kapital sedang menggarap 5 proyek perumahan, 2 diantaranya di Palembang, sisanya di kawasan Jabodetabek. Selain itu, mereka juga telah mengembangkan 5 proyek ruko yang tersebar di kawasan Jakarta Timur, Bintaro, Ciledug, Pamulang dan Tangerang.

Share this news.

Leave a Reply