PROPERTY INSIDE – Pascabencana tsunami di Selat Sunda, Banten, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Tanjung Lesung setidaknya membutuhkan dana sebesar Rp150 miliar untuk membangun kembali kawasan wisata yang diterjang bencana pada Sabtu (22/12) lalu.
Jababeka Group sebagai pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung mengembangkan kawasan pariwisata dengan bendera PT Banten West Java Tourism Development akan merenovasi kembali kerusakan yang terjadi.Baca juga: Paska Tsunami Selat Sunda, Perbaikan Infrastruktur Jadi Prioritas
Chairman Jababeka Group S.D Darmono mengatakan, dibutuhkan dana sekitar Rp150 miliar untuk membangun kembali hotel-hotel yang rusak pascabencana tsunami tersebut. Setidaknya ada lima hotel dengan total 250 kamar berada di bawah pengelolaan PT Banten West Java Tourism Development.“Seluruh bangunan hotel yang ada telah diasuransikan, jadi untuk kerugian bisa dicover oleh perusahaan asuransi. Sekitar 30% bangunan dan kamar hotel yang dikelola PT Banten West Java Tourism Development rusak,” kata Darmono saat jumpa pers di Menara Batavia, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Senin (24/12).
Sementara Poernomo Siswoprasetijo, Direktur Utama PT Banten West Java Tourism Development, mengatakan, dari sekitar 1.500 hektar KEK Pariwisata Tanjung Lesung yang terkena dampak besar dari tsunami hanyalah area Tanjung Lesung Beach dengan luas sekitar dua hektar.
Baca juga: BNPB: Hingga Senin Pagi, 611 Rumah Rusak, 69 Hotel Rusak, dan 281 Orang Meninggal
“Untuk kawasan villa dan hotel di KEK Pariwisata Tanjung Lesung, luasnya sekitar 20-an hektar. Sedangkan properti yang terkena dampak tsunami sekitar dua hektar, jadi tidak terlalu besar dan ekstrem seperti yang digambarkan. Cuma memang kebetulan sedang ada acara di outdor, sehingga banyak pengunjung yang menjadi korban,” ujar Poernomo.
Dari 61 cottage yang ada di Tanjung Lesung Resort, sekira 30 persennya mengalami kerusakan akibat gelombang tsunami. Beberapa infrastruktur pendukung saat ini sudah mulai kembali normal, seperti listrik, persediaan air bersih, dan juga jaringan telekomunikasi.
“Sudah diputuskan mulai 1 Januari 2019 akan dibuka kembali supaya minat orang-orang untuk datang ke Tanjung Lesung tidak hilang. Kita akan maksimalkan cottage yang kondisinya masih baik,” kata Poernomo.