PROPERTY INSIDE – Mark Friedberg pernah bersumpah pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah ikut menjadi produk desainer film-film superhero. Dia mengaku pernah melakukannya sekali dan kapok sejak saat itu untuk melakukannya lagi.
Tapi ketika dia disodorkan naskah untuk Film Joker, dia merasa diberi kebebasan berekspersi yang liar. “Ini adalah sebuah tough drama grounded yang didasarkan pada substansi. Palet warna akan menjadi disonansi,” katanya kepada Architectural Digest.
Kompilasi pusaran hidup Joker di film ini adalah apartemen Ibunya yang berantakan. Friedberg memilih sebuah bangunan art-deco tua di Bronx Selatan yang mungkin dulunya aspirasional dan cukup indah ketika Joker masih kecil.
Baca juga: CP Wolff Schoemaker, Guru Teknik Sipil Bung Karno Yang Insinyur Militer
Friedberg dan sutradara Todd Phillips meneliti dan memeriksa lokasi di New York City selama dua bulan sebelum syuting pada 2018. Tujuan mereka adalah mengubahnya menjadi versi yang membosankan dan mengerikan. Kota dengan nuansa tahun 70-an.
Kota Gotham, kota metropolitan yang berbahaya secara fisik dan emosional membuat Arthur Fleck a.k.a Joker sering menerima pelecehan. Memang, karakter tituler dalam Joker yang diperankan oleh Joaquin Phoenix, penyendiri yang canggung secara sosial sangat cocok dengan karakter Gotham City yang dibangun Friedberg.
Tapi sebenarnya kota apakah yang menjadi inspirasi Bill Finger, si penulis Batman, dalam penciptaan Gotham City dengan karakter arsitektur yang gelap itu? “Tentu saja Gotham adalah nama lain dari New York,” kata Finger.
“Awalnya aku ingin menamainya Civic City, Capital City, lalu Coast City. Lalu aku membolak-balik buku telepon New York dan melihat nama Toko Emas Gotham. Nah itu dia! Gotham City. Kami tak ingin menamainya New York supaya orang-orang tak ingin menyama-nyamakan,” ujar Finger seperti dikutip dari The New York Times.
Sebenarnya, jauh sebelum ada Gotham City-nya Batman, New York memang sudah dijuluki Gotham City. Seorang penulis bernama Washington Irving pada tahun 1807 menulis esai satir dalam majalah sastra Salmagundi tentang kisah “The thrice renowned and delectable city of Gotham”.
Baca juga: Albert Speer, Arsitek Kesayangan Hitler
Kota Gotham dalam gambaran film Joker nampak sebagai kota modern namun penuh dengan kaum miskin, marjinal dan orang-orang kaya yang sombong, sama seperti di dunia nyata saat ini. Orang-orang kaya yang sombong ditampilkan dalam salah satu scene slip tongue ayah Batman, Thomas Wayne yang mengutuk pembunuh tiga eksekutif muda bajingan di stasiun kereta bawah tanah Gotham.
Alih-alih mendapat simpati, padahal saat itu Wayne “sang pengusaha” sedang mencalonkan diri menjadi Walikota Gotham, para kaum marjinal dan orang-orang miskin malah bersimpati pada sang pembunuh tiga pemuda kaya yang mewakili kalangan borju Kota Gotham itu. Orang-orang berbondong memakai topeng badut pembunuh dan mulai menggugat orang-orang kaya.
Mengapa ini terjadi? Jelas karena ketimpangan kota yang yang korup, yang menghasilkan pemerintah korup, legislatif, yudikatif maupun eksekutifnya. Para pengusaha berkuasa atas apa saja, mewakili kepentingan mereka, bukan kepentingan orang banyak.
Gotham adalah contoh sarkas yang jelas tentang kondisi banyak kota-kota metropolitan, bahkan negara-negara di dunia, tidak terkecuali Indonesia.
Karakter Kelam dan Berantakan Gotham City ada di dunia nyata kita.




