Bagaimana Cara Gunadharma Membangun Candi Borobudur?

PROPERTY INSIDE – Begitu banyak misteri soal Borobudur yang sampai kini belum terpecahkan. Jangankan misteri pembuatannya, asal usul nama Borobudur pun sampai kini masih menjadi misteri yang tak terpecahkan.

Kabar yang kita tau, arsitek Candi Borobudur adalah seseorang bernama Gunadharma. Lalu siapa Gunadharma? Dia adalah arsitek misterius yang menjadi legenda turun temurun, berdasarkan dongeng dan legenda, bukan berdasarkan prasasti bersejarah.

Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan yang dipelajari sejarawan Belanda  bernama Johannes de Casparis, diperkirakan pendiri Borobudur adalah raja dari dinasti Syailendra bernama Samaratungga.

Baca juga: Mahakarya Agung Arsitektur Candi Indonesia

Pembangunan Borobudur diperkirakan sekitar tahun 824 M, tapi baru dapat diselesaikan pada masa Ratu Pramudawardhani sekitar, sekitar setengah abad kemudian.

Banyak fakta mengagumkan tentang arsitektur dari monumen Buddha terbesar di dunia ini. Mahakarya Agung ini memiliki sekira 2672 panel relief yang konon apabila dibentangkan akan mencapai panjang 6 kilometer.

Untuk membangun candi ini dibutuhkan sekira 2 juta balok batu andesit atau vulkanik raksasa yang dipahat sedemikian rupa sehingga dapat saling mengunci (interlock) meski tanpa menggunakan semen atau perekat apa pun.

Baca juga: Prambanan & Keindahan Arsitekturnya

Ibarat permainan lego, candi ini tersusun indah dengan pahatan-pahatan relief yang menggambarkan kisah-kisah kehidupan, sebuah mahakarya seni yang utuh dan luar biasa tinggi nilainya.

Ajaibnya lagi, bahan bangunan dari batuan andesit tidak ditemukan di sekitar Borobudur. Artinya, pembuat candi ini harus menyediakan batu andesit ini dari lokasi yang jauh dari Borobudur.

Batuan andesit itu harus terlebih dahulu ditambang. Di lokasi penambangan, para ahli pahat memahat batu tersebut menjadi balok-balok batu yang disesuaikan satu sama lain agar bisa saling mengunci seperti lego.

Bayangkan bagaimana rumitnya menambang 2 juta balok batu untuk kemudian dipahat yang pada jaman itu hanya mempunyai teknologi palu dan pahat. Setelah pemahatan selesai balok-balok batu itu kemudian dipikul ke kaki bukit.

Baca juga: Trowulan, Kota Metropolitan Kuno

Untuk memindahkan sebuah balok batu itu diperkirakan membutuhkan empat orang untuk memikulnya. Belum lagi mereka harus menghitung presisi antara batu yang satu dengan yang lainnya agar sesuai ketika dipasang.

Bayangkan, selama proses pembangunan ini berlangsung tidak adakah di antara mereka yang tewas akibat terpeleset dan kemudian jatuh dan tertimpa batu yang dipikulnya.

Balok-balok batu itu lalu ditempel di sekeliling bukit Borobudur, hingga seluruh bukit tertutup susunan balok yang membentuk bangunan berundak segi delapan. Puncaknya, di ketinggian 30 meter, dipasang sebuah stupa.

Borobudur adalah bukti bahwa bangsa ini pernah mencapai puncak keindahaan teknik arsitektur berpadu dengan estetika seni rupa Buddha di Jawa.

Share this article:

Leave a Reply