Hapernas, Dihantui Rumah Subsidi yang Tak Lagi Seksi

PROPERTY INSIDE – Hari Perumahan Nasional atau Hapernas setiap tahunnya diperingati pada 25 Agustus. Selalu ada seremoni yang dilakukan oleh kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terkait Hapernas.

Selain ziarah ke makam Bung Hatta yang merupakan pelopor hari perumahan juga diadakan beragam kegiatan lainnya hingga talkshow dan juga peluncuran buku perumahan oleh Kementerian PUPR.

Tentunya kegiatan Hapernas tahun ini beda dengan tahun sebelumnya. Pandemi Covid-19 membuat Kementerian PUPR banyak melakukan kegiatan secara virtual, kecuali saat ziarah ke makam Bung Hatta.

Baca juga: Cilejit, Magnet Baru Tangerang

Namun dibalik itu dan pada sisi lain developer atau pihak swasta yang fokus membangun rumah rakyat alias rumah subsidi mengaku ketar-ketir.

Dampak Pandemi Covid-19 sejak Maret lalu hingga kini urusannya tak hanya bicara kesehatan tapi sudah pada tahapan ekonomi yang kian rapuh dan membuat bisnis pembangunan perumahan tersendat jalannya.

Seperti yang dikatakan Vidi Surfiandi selaku Dewan Pembina DPD Apersi Banten yang menyatakan bahwa saat ini mimpi, jika bisa akad kredit rumah subsidi sampai 10 unit dalam sebulan.

Baca juga: SAMARA LOT.1, PERUMAHAN BERBASIS KOMUNITAS MUSLIM DI GUNUNG SINDUR, BOGOR

Menurutnya lagi kondisi ini kian bermasalah dengan kondisi ekeonomi yang tergerus pandemi. Perbankan selaku pihak yang menyalurkan dana subsidi yang merupakan uang negara (APBN) lebih hati-hati.

Kisruh rumah subsidi sebenarnya sudah ada sejak tengah tahun lalu terkait akad kredit yang minim, di September 2019. Saat itu kuota alias pembiayaan rumah subsidi sudah habis sebelum waktunya atau akhir tahun 2019.

“Walau pada penghujung tahun kembali bergerak namun akad kredit terganggu, jadi mundur. Dan tahun ini kendala dampak pandemi membuat rumah subsidi juga terkena dampaknya,” jelasnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Baca juga: SYARAT PENGAJUAN KPR SUBSIDI: PUNYA TABUNGAN MINIMAL 6 BULAN; INI MEMBERATKAN | JUNAIDI ABDILLAH

Bahkan menurut Vidi yang merupakan pengembang senior yang banyak membangun rumah subsidi di Banten sejak jaman Akbar Tanjung, Menteri perumahan saat itu, saat ini pengembang rumah subsidi sudah tak seksi, banyak kendala di dalamnya.

Vidi menegaskan, masa kejayaan rumah subsidi itu antara tahun 2005 hingga 2014. Menurutnya dalam sebulan bisa akad kredit 100 unit. “Saat itu sistem yang dibuat pemerintah berjalan baik. Seperti persyaratan permbiayaan subsidi cukup di kantor cabang saja dan tidak seperti sekarang yang sentralisasi di pusat dan digitalisasi tapi malah lambat jalannya,” tegasnya.

Baca juga: Konsep TOD, Menteri Perhubungan Sambut Positif Kota Podomoro Tenjo

Hingga kini menurut Vidi, masalah yang ada seperti pengulangan dan itu saja. “Kalau boleh saya istilahkan, masalahnya adalah masalah klasik. Itu-itu saja masalahnya. Regulasi tak bersahabat, pembiayaan dan sistem yang kadang berganti. Saya terus suarakan masalah ini ke pemerintah (kementerian PUPR).

Vidi berharap agar pemerintah lebih memberikan perhatian pada pembangunan rumah subsidi karena rumah adalah kebutuhan dasar dan ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Apalagi menurutnta, dalam pembangunan rumah subsidi ini dilakukan oleh pihak swasta. Yang menurutnya adalah pihak swasta adalah pebisnis. “Namanya bisnis kalau tak ada margin lebih baik ditinggalkan. Tapi ironis, rumah subsidi di Indonesia itu yang bangun pihak swasta. Semoga rumah subsidi bisa lebih seksi lagi dan tetap dilirik,” tegasnya.

Share this news.

Leave a Reply