PROPERTY INSIDE – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus mendorong pengembangan inovasi teknologi infrastruktur tahan bencana.
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, dengan potensi bencana alam yang besar dan belajar dari kondisi Pandemi Covid-19, kedepannya diperlukan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk konstruksi infrastruktur yang memiliki daya tahan terhadap multiple-disasters.
Menurutnya pembangunan infrastruktur tidak hanya memperhatikan aspek fungsional, namun juga perlu memberikan sentuhan arsitektural (art) dan aman secara struktur.
Baca juga: Rumah Rakyat, Masih Berkutat Dengan RTR Dan Perizinan
“Misalnya pada jembatan bentang panjang yang saat ini telah banyak dibangun di Indonesia, seperti Jembatan Merah Putih di Ambon, Jembatan Pulau Balang di Kalimantan Timur, Jembatan Teluk Kendari di Sulawesi Tenggara, dan jembatan di tol seperti Jembatan Kali Kenteng di Jawa Tengah.
Pada struktur jembatan-jembatan ini harus dilengkapi dengan Structural Health Monitoring System (SHMS) untuk pemantauan kesehatan struktur jembatan. Selain itu pada pembangunan bendungan juga diperlukan inovasi untuk pengembangan tipe bendungan selain rockfill dam.
“Misalkan dengan mengembangkan bendungan tipe concrete dam dan arch dam. Saya percaya para engineer kita mampu melakukan rekayasa bendungan tersebut,” kata Menteri Basuki saat membuka Lokakarya Virtual bertajuk “Megastruktur dan Infrastruktur Tahan Gempa Indonesia Karya Anak Bangsa”,Kamis (24/9).
Baca juga: PELIKNYA PROBLEM RUMAH SUBSIDI | #NGOPI
Menteri Basuki berharap, lokakarya ini menjadi wadah untuk memperkenalkan, dan sekaligus mengapresiasi karya dan capaian anak bangsa di bidang konstruksi tahan gempa dan mitigasi bencana. Juga untuk saling berbagi dan bertukar ilmu pengetahuan dan pengalaman kerekayasaan.
Selain itu dalam kerangka meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana gempa bumi, Kementerian PUPR bersama para pakar kegempaan dari berbagai latar belakang disiplin ilmu telah menerbitkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017.
Baca juga: Cosman Citroen, Arsitek Belanda Perancang Balaikota Surabaya
Peta tersebut merupakan pemutakhiran Peta Gempa Indonesia Tahun 2010. Peta tahun 2017 tersebut kini menjadi acuan standar dalam perencanaan bangunan dan infrastruktur tahan gempa.
Menteri Basuki menambahkan, untuk meningkatkan pengetahuan mengenai kegempaan,Kementerian PUPR dibantu Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) dengan 3 tugas utama, yaitu pemutakhirkan peta sumber dan bahaya gempa nasional secara berkala, survei dan analisis kegempaan dan kerusakan pasca terjadinya gempa merusak serta memberikan rekomendasi, dan sosialisasi mengenai sumber, bahaya dan risiko gempa di Indonesia.









