Sektor Perkantoran Terpuruk Akibat Pandemi, Baru Pulih Total 5 Tahun Lagi

By 29 September 2020Property News

PROPERTY INSIDE – Pandemi Covid-19 memberi dampak pada fundamental penyewaan perkantoran (office leasing fundamentals) di dunia. Bisnis perkantoran akan terdampak secara signifikan oleh resesi akibat pandemi dan tren workfrom-home.

Demikian laporan dari  Studi Dampak Perkantoran Global yang dilansir oleh konsultan properti global Cushman & Wakefield (NYSE: CWK). Meski sektor perkantoran saat ini terdampak signifikan, namun laporan studi tersebut mencatat bahwa kondisi akan mulai membaik di tahun 2022 dan akan pulih total pada 2-3 tahun kemudian.

Jadwal pemulihan total ini konsisten dengan yang diamati selama Resesi Besar (the Great Recession), namun dengan sedikit keterlambatan dikarenakan tren work-from-home. Laporan ini dikembangkan oleh Lembaga Kajian Global (Global Think Tank) yang baru dibentuk oleh Cushman & Wakefield, berisikan para peneliti senior dan ekonom dari berbagai belahan dunia.

Baca juga: Dampak Pandemi, Resesi Tak Bisa Dihindari

Studi ini menganalisis perubahan siklikal dan struktural yang berdampak pada pasar perkantoran global dan efeknya terhadap proses pemulihan.

“Kami berupaya menjawab pertanyaan mendasar dan ambigu terkait ‘apa yang akan terjadi pada perkantoran’ melalui penjabaran ilmiah atas kondisi yang ditimbulkan oleh pandemi ini dan dampak kumulatif pada fundamental sektor perkantoran,” jelas Kevin Thorpe, Chief Economist dan Global Head of Research Cushman & Wakefield.

“Kami mengamati dampak kolektif dari kondisi ini, termasuk hilangnya pekerjaan, kekosongan ruang perkantoran dan harga sewa perkantoran, karakteristik geografis, dan perkembangan work-from-home, untuk menetapkan skenario masa depan yang, dalam kasus dasar kami, memproyeksikan pemulihan total pasar perkantoran global pada akhirnya.”

“Seluruh produk real estat tentu sangat terkait dengan lokalitas, dan tidak seluruh pasar lokal akan mengikuti jalan pemulihan yang sama,” ungkap Kevin dalam keterangan resmi yang diterima www.PropertyInside.id, Selasa (29/09) di Jakarta.

Beberapa temuan utama dari Studi Dampak Perkantoran Global 2020 terfokus pada pemulihan total sektor ekonomi dan ketenagakerjaan yang diantisipasi pada K1 2022, dan permintaan ruang perkantoran terkait sebagaimana tren kekosongan mulai menurun dan harga sewa mulai meningkat.

Baca juga: Imbas Corona, REI DKI Minta Penundaan Hutang Pokok & Keringanan Bunga Bank Hingga Desember 2020

Pada 2025, kekosongan perkantoran global diantisipasi akan kembali ke tingkat yang sama sebelum krisis, sekitar 11%, dengan harga sewa kembali pada level puncak sebelum krisis.

Global Head of Forecasting Cushman & Wakefield,  Rebecca Rockey  menyampaikan, meski dampak dari tren work-from-home akan memperlambat pemulihan pasar perkantoran, pertumbuhan secara umum sektor pekerjaan yang membutuhkan ruang kantor dan beberapa faktor lain – termasuk aglomerasi, budaya/branding, dan produktivitas – secara kolektif mengindikasikan bahwa perkantoran akan terus memiliki peran penting pada ekonomi ke depannya.

“Dengan studi ini, kami memantau ketidakpastian kondisi ini melalui bukti, data, dan metodologi ilmiah,” jelas Rebecaa.

Di Asia Pasifik (tidak termasuk Tiongkok Raya) dalam tingkatan agregat, dampak dari resesi global saat ini terlihat lebih lunak dan singkat dibandingkan daerah lain di dunia. Pada skenario baseline, kondisi seluruh sektor ekonomi di sebagian besar Asia Pasifik dapat kembali ke level PDB pra-COVID-19 pada K3 2021.

Baca juga: Anyaman Pemulihan Ekonomi Nasional, Perumahan Berkeadilan Sosial (I)

Fundamental penyewaan perkantoran dalam waktu 6-18 bulan ke depan akan menghadapi tantangan dari pandemi berupa melambatnya pembukaan lapangan kerja kantoran pada jangka pendek, dan hilangnya lapangan pekerjaan pada jangka menengah.

Terlepas dari tantangan yang ada, permintaan yang diukur dari serapan bersih, diproyeksikan akan tetap positif mulai saat ini hingga 2030. Data terbaru menunjukkan bukti awal bahwa daerah Asia Pasifik akan lebih tahan dibandingkan wilayah global lainnya.

Laporan ini mencatat bahwa Asia Pasifik terus menunjukkan ketahanannya dibandingkan wilayah lain, namun tidak juga kebal terhadap dampak negatif yang dibawa pandemi ini. Wilayah ini memasuki zona krisis dengan pipeline pasokan yang besar, dengan gelombang kuat pengembangan perkantoran yang dijadwalkan selesai pada 2020-2022.

Share this news.

Leave a Reply