PROPERTY INSIDE – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengikuti rangkaian sidang tahunan World Bank (WB) dan International Monetary Fund (IMF) yang sudah terselenggara sejak 5 Oktober 2020.
Beberapa kegiatan yang diikuti oleh Menkeu antara lain G24 Ministers and Governors Meeting, CNBC Debates on the Global Economy, dan International Monetary Fund Connect-Early Warning Exercise (IMFC-EWE).
Pada seluruh pertemuan, Menkeu senantiasa menekankan pentingnya kesetaraan akses vaksin antara negara maju dan negara berkembang, serta optimalisasi bauran kebijakan fiskal, makroprudensial, dan moneter.
Baca juga: Sinergi, Jadi Program Pemerintah Untuk Bangkitkan Pariwisata
Menkeu Sri Mulyani menegaskan, WBG dan IMF diharapkan dapat membantu negara berkembang dan emerging dengan financing, knowledge sharing dan convening power yang dimiliki.
Menurutnya lagi, negara berkembang dan emerging dapat mengoptimalkan kebijakan fiskal, makroprudensial dan moneter untuk menghadapi krisis pandemi. “Untuk itu, WBG dan IMF dapat membantu dengan memberi sinyal positif kepada pasar, khususnya rating agencies dan investor bahwa kebijakan one-off burden sharing yang prudent dapat dilakukan dengan aman,” imbuhnya.
Menkeu Sri Mulyani juga mengharapkan agar tingkat bunga di negara berkembang dan emerging dapat lebih murah agar negara miskin tidak dibebani dengan bunga lebih tinggi.
Baca juga: APARTEMEN BERKONSEP AEROCITY PERTAMA DI INDONESIA | GRAND ANILA APARTEMEN
Lebih lanjut, untuk mendukung pemulihan hijau dan inklusif, pasar diharapkan mengapresiasi penerbitan obligasi hijau atau green bond, misalnya dengan cara mengakomodir tingkat imbal hasil atau yield yang lebih rendah.
Sementara dalam Ministerial Conclave: Investing in Human Capital in the Time of Covid-19 para pemimpin global membahas strategi mobilisasi pendanaan dan investasi Sumber Daya Manusia (SDM) dalam merespons dampak Covid-19.
Menkeu menyampaikan bahwa Indonesia berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan SDM di tengah kondisi yang luar biasa saat ini.
Baca juga: Stimulus Sektor Properti, Efek Multiplier Effect Tingkatkan PDB
“Investasi dalam human capital adalah kunci pertumbuhan ekonomi. Sejak awal terjadinya pandemi, Pemerintah Indonesia fokus dalam memberikan perlindungan terhadap manusia dengan meningkatkan anggaran, melebarkan defisit fiskal, dan memprioritaskan belanja kebutuhan darurat,” imbuhnya.
Dalam rangkaian sidang tahunan WB-IMF ini, IMF juga meluncurkan World Economic Outlook (WEO) terbaru. Dalam laporan tersebut, IMF memroyeksikan resesi ekonomi tahun 2020, di mana ekonomi global 2020 terkontraksi -4,4% (year on year), lebih baik dari proyeksi Juni yaitu -5,2%.
Baca juga: Miliki Nilai Spesial, Uang Muka Kota Podomoro Tenjo Hanya 10 Juta
Hal ini didorong oleh kinerja pemulihan ekonomi negara maju lebih cepat dari ekspektasi awal, meski negara berkembang justru mengalami koreksi lebih dalam. Di kuartal ketiga, tanda-tanda pemulihan ekonomi terlihat lebih kuat dibanding kuartal sebelumnya.
Lebih lanjut dalam rilis WEO, pertumbuhan ekonomi global 2021 diperkirakan lebih moderat pada 5,2% dibanding perkiraan sebelumnya, menggambarkan masih adanya risiko pandemi yang mendorong negara untuk tetap melakukan physical distancing meski sudah mulai tersedia vaksin.
Baca juga: Mantan Pimpinan KPK Diangkat Jadi Preskom Sentul City
Dalam jangka menengah, pertumbuhan akan mengalami moderasi dari tingkat rebound di tahun 2021. Oleh sebab itu, reformasi struktural dibutuhkan untuk mempercepat pemulihan akibat resesi.
IMF mengatakan bahwa krisis kali ini merupakan krisis terburuk kedua setelah great depression, sehingga diperlukan penanganan yang serius melalui reformasi dan inovasi kebijakan masing-masing negara maupun internasional.








