Beda dengan Indonesia, Australia Jaga Ketat Pasokan Apartemen, Potensi Investasi jadi Terjamin

PROPERTY INSIDE – Sistem perbankan di Australia memungkinkan para nasabahnya untuk melakukan refinancing atas KPA (Kredit Apartemen) pada unit pertamanya meskipun cicilan belum selesai. Konsumen biasanya melakukan refinancing KPA saat cicilan mereka sudah berjalan 5 tahun dengan asumsi sudah terjadi kenaikan nilai unit pertama hingga 50%.

Hal ini diungkapkan oleh Manajer Penjualan Crown Group Indonesia, Reiza Arief dalam keterangan resimi yang diterima PropertyInside.id, Senin (15/3) di Jakarta. Bahkan Reiza menjelaskan bahwa perbankan di Australia bisa memberikan pinjaman KPA kedua kepada konsumen hingga 80% dari harga unit yang ditawarkan.

“Perbankan Australia bisa memberikan pinjaman kedua karena dipastikan nasabah dapat membayar cicilan KPA dari pendapatan sewa mereka. Perbankan yakin akan hal ini dikarenakan tingkat keterisian (occupancy rate) apartemen di Australia sangat tinggi,” jelas Reiza.

Baca juga: Crazy Rich Asia Pilih Singapura Sebagai Tempat Investasi Properti Favorit

Rata-rata tingkat kekosongan unit apartemen di Australia adalah sebesar 1.9% yang artinya sangat sedikit apartemen yang kosong tidak terisi. Lalu mengapa tingkat kekosongan unit apartemen di Australia bisa begitu rendah?

Reiza menjelaskan bahwa komitmen pemerintah Australia dalam menjaga titik ekulibrium antara pasokan dengan permintaan sangat ketat antara pasokan dan kebutuhan akan property. Pemerintah Australia menjaga hal itu melalui beberapa mekanisme regulasi seperti izin membangun yang ketat, pembatasan zona pembangunan dan regulasi perbankan.

“Demikian juga pihak pengembang, wajib memiliki pondasi keuangan internal yang sehat karena pihak perbankan hanya akan memberikan pinjaman untuk pembangunan proyek hunian sebesar 50% dari nilai proyek. Dan dana tersebut hanya akan diberikan kepada pihak pengembang apabila proyek hunian sudah terjual secara off the plan sebanyak 50% dari total unit apartemen yang ditawarkan kepada public,” jelas Reiza.

Baca juga: Pajak Rumah Rp2 Miliar Ke Bawah Ditanggung Pemerintah 100%

Selain itu, valuasi nilai apartemen ditentukan oleh perbankan di Australia, sehingga jarang ada apartemen yang dijual secara over priced. Pengembang tidak bisa seenaknya memberikan harga untuk konsumen. Semua ini dimungkinkan karena hampir 90% warga Australia membeli unit apartemen dengan menggunakan kredit perbankan.

“Status kepemilikan yang diberikan pun bersifat free hold atau SHM atas unit apartemen yang diberikan oleh pemerintah Australia kepada setiap pemilik unit apartemen meskipun mereka adalah orang asing. Inilah salah satu sebab mengapa banyak pembeli asing menjadikan Australia sebagai tujuan utama untuk investasi properti.”

Selain itu, trust konsumen juga sangat dijaga. Pengembang dilarang keras untuk menerima uang konsumen apabila proyek hunian belum selesai dibangun. Calon pembeli hanya diwajibkan membayar 10% dari nilai properti yang diinginkan,itupun tidak ditransfer atau dibayarkan kepada pengembang, melainkan ke pihak ketiga atau Trust Account.

“Sementara sisanya akan dibayarkan ketika hunian sudah selesai dibangun. Pembeli baru mulai membayar cicilan KPA setelah unit di serah terimakan, sedikit berbeda dengan kondisi di Indonesia dimana cicilan sudah dimulai bahkan sebelum properti selesai dibangun,” pungkasnya.

Share this article:

Leave a Reply