Artificial Inteligence Semakin Berkembang, Ruang Sewa Kantor Diprediksi Berkurang

Share on Facebook
Tweet on Twitter

PROPERTY INSIDE – Di masa depan tempat kerja akan semakin mobile dan perusahaan akan menggunakan kombinasi tim utama dengan pekerja paruh waktu, sehingga ruang sewa kantor diprediksi akan berkurang. Perusahaan akan lebih memanfaatkan ruang co-working dan ruang fleksibel lainnya untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.

Laporan terbaru The New Economist Corporate Network yang berjudul The Impact of AI and Automation on the Workplace: The Role of the CEO in Shaping the Workplace of Tomorrow mengungkapkan bagaimana teknologi, otomatisasi dan Artificial Inteligence (AI), berdampak pada tempat kerja.

Laporan yang didukung oleh konsultan properti global JLL di Beijing, diambil dari survei dan diskusi kelompok terarah yang dilakukan bersama para CEO di Asia Pasifik. Laporan ini membahas persepsi, harapan dan perubahan industri teknologi, serta bagaimana para pemimpin bisnis melakukan transisi perubahan pada tempat kerja di masa depan.

Managing Director JLL North China Julien Zhang, dalam siaran persnya Rabu (29/11), mengatakan bahwa studi ini membahas beberapa tema utama yang terkait dengan visi JLL tentang Future of Work, dan memberikan kontribusi pada pengembangan visi tersebut untuk membantu menciptakan tempat kerja yang memberikan kesempatan untuk berkembang.

Hasil survei perkumpulan CEO tersebut mencatat sebanyak 56,2 persen beranggapan bahwa perubahan terbesar yang akan terjadi karena dampak teknologi adalah jam kerja yang lebih fleksibel dan tipe pekerjaan yang tidak terlalu formal. Hal ini tentunya berimplikasi pada bagaimana cara memanfaatkan dan mengelola real estate.

“Dengan adanya tren teknologi yang sedang berkembang, kami sering melihat bisnis-bisnis yang mengubah dunia real estate tradisional, termasuk berkembangnya co-working space yang mendukung para entrepreneur dan korporasi. Demikian pula, developer mulai menawarkan fasilitas di dalam bangunan mereka untuk memberikan penyewa pilihan yang lebih fleksibel diluar ruang kantor mereka,” jelas Frank Rexach, Managing Director, Enterprise Strategy & Innovation, JLL Asia Pasifik.

Meskipun jumlah otomatisasi dan Artificial Intelligence (AI) meningkat dan tidak dapat dihindari, perubahan ini dapat terjadi dengan subjek pendekatan yang berbeda. Lebih dari 40 persen hasil survei menginginkan bahwa otomatisasi dan AI dapat terjadi lebih cepat di tempat kerja mereka dan hampir 60 persen lebih peduli untuk meringankan dampak dari perkembangan teknologi tersebut.

Namun, jika menyangkut perusahaan mereka sendiri, 81,1 persen CEO menyatakan bahwa mereka akan menjadi pemimpin dengan memberikan contoh dan mengotomatisasi beberapa pekerjaan mereka yang dapat lebih efisien jika dilakukan oleh Artificial Inteligence.

Laporan dari focus grup menyarankan bahwa para CEO perlu untuk berpikir lebih strategis, dan melibatkan generasi muda di zaman digital untuk merumuskan dan mewujudkan rencana mereka ke depannya.

Pandangan dari JLL adalah, struktur organisasi baru di masa depan akan sulit di prediksi karena dampak otomatisasi dan Artificial Intelligence (AI), sehingga penting bagi para CEO untuk melibatkan perusahaan properti sebagai bagian dari tim eksekutif mereka dengan focus pada optimisasi bakat dan dampaknya terhadap tingkat kebutuhan real estate.