PROPERTY INSIDE – Belum lama ini media mainstream dihebohkan berita yang bersumber dari media sosial yang viral. Ceritanya, seorang fresh graduate jebolan Universitas Indonesia menolak gaji pertama Rp8 juta yang ditawarkan sebuah perusahaan lokal.
Meski tidak diketahui siapa sang alumni UI itu, namun alih-alih mendapat dukungan dari netizen, malah hujatan datang bertubi dari viral berita tersebut. Mungkin memang hak si millennial untuk tidak menerima gaji yang ditawarkan, dan mungkin juga dia merasa dengan kapasitasnya, dia selayaknya menerima gaji lebih tinggi.
Hanya satu kesalahannya, melampirkan penolakannya itu di jagad maya tanpa memikirkan efek negatif postingannya, tanpa merasa bahwa itu menunjukkan narsisme pribadinya. Dan sudah barang tentu hal-hal kontroversi seperti itu dilahap belantara dunia maya yang begitu kasar & liar.
Jujur saja, dia tidak sendirian, ada ribuan bahkan mungkin jutaan millennial seperti ini di jagad maya. Lalu mengapa hal seperti ini terjadi? Bisa dibilang, kecanggihan teknologi dengan berbagai fitur media sosial yang ada saat ini semakin membangkitkan narsisme manusia.
Pada dasarnya memang manusia, – tidak hanya kaum millennial, membutuhkan pengakuan. Peng’aku’an ini pun dimanjakan oleh media sosial. Hampir setiap hari kita melihat berseliweran di lini masa media sosial, postingan para millennial tengah makan makanan mahal di resto ternama, foto-foto travelling di tempat-tempat wisata dalam & luar negeri atau bermacam kegiatan lain yang membutuhkan pendanaan mahal.
Kita tidak tau, entah dengan cara apa setiap saat mereka mampu atau memampukan diri untuk makan enak, pergi pelesiran atau membeli gadget mahal. Oke, mungkin gajinya cukup banyak, atau mungkin juga orang tuanya memang tajir. Tapi apakah semuanya seperti itu? Tentu tidak.
Buktinya, banyak lembaga pembiayaan yang membidik kebutuhan narsisme mereka, perbankan dengan kartu kreditnya, dan juga travel agen online yang menawarkan cicilan hanya untuk memenuhi kebutuhan yang dulunya bisa disebut sebagai bagian kebutuhan lux bagi orang-orang tua mereka.
Jelas, promo-promo dari berbagai perusahaan itu menarget kebutuhan narsisme kaum millennial tidak asal-asalan menyasar target. Mereka tau betul bahwa millennial butuh jalan-jalan, butuh gadget mahal dan butuh pengakuan. Dan gaji mereka saja tentu tidak akan cukup memenuhi hasrat itu. Lalu berhutang mungkin solusinya.
Lalu kenapa mereka lebih memilih berhutang untuk jalan-jalan atau membeli barang-barang mewah dibandingkan menyisihkan uang untuk membeli rumah, yang sudah tentu menjadi kebutuhan pokok baginya kelak. Jangan hanya salahkan kenarsisan millennial dalam masalah ini. Banyak faktor lain yang membuat mereka lebih memilih menyisihkan uang untuk jalan-jalan daripada membeli rumah.
Kita ambil contoh Jakarta, adalah tempat dimana banyak millennial menganggap adalah tempat paling ideal mencari rupaih dan bermukim. Tapi harga hunian di ibu kota Republik ini jelas tidak terjangkau oleh rata-rata millennial. Mereka akan lebih memilih kost atau menyewa apartemen yang dekat dengan kantor.
Tinggal di kawasan sub-urban? Bisa saja menjadi pilihan para millennial, tapi rata-rata millennial yang berpenghasilan bagus, atau kerja di perusahaan-perusahaan mentereng membutuhkan banyak hal yang lebih kompleks. Mereka butuh urban lifestyle-nya terpenuhi, mereka butuh mol, mereka butuh kedai kopi berkelas untuk kongkow.
Kebutuhan seperti ini sebenarnya sudah disadari oleh banyak developer properti. Para developer membangun proyek-proyek hunian yang lengkap dengan berbagai kebutuhan lifestyle millennial itu. Lengkap. Entah itu mol, gerai kopi ternama, resto branded dan entah apalagi.
Tapi, jujur saja untuk memenuhi berbagai fasilitas itu tentu akan membebankan harga rumah/apartemen menjadi lebih mahal daripada hanya sekedar kawasan hunian tunggal. Kembali lagi, harganya akan tetap mahal, tak terjangkau oleh millennial yang kebetulan sudah terlanjur banyak cicilan membeli ini itu kebutuhan narsisme mereka.
Bagaimana dengan program sejuta rumah yang digaungkan pemerintah? Bagi millennial kelas menengah, rumah subsidi ini bukan pilihan. Gengsi mungkin akan menjadi pertaruhan kelas menengah ini untuk membeli rumah bersubsidi.
Dan harus jujur diakui, backlog rumah atau kekurangan pasokan rumah tidak hanya melanda masyarakat berpenghasilan rendah. Masyarakat kelas menengah pun banyak yang tidak punya rumah. Jika begini, ketimpangan kepemilikan rumah akan semakin jauh, semakin tinggi.
Kita belum bicara mengenai spekulan properti yang membuat harga properti semakin tinggi, belum juga bicara mengenai ketersediaan lahan, ketersediaan lapangan kerja, gaji yang ideal dan puluhan problematika perumahan di masa kini. Kita masih bicara tentang millennial kelas menengah yang menafikan kebutuhan papan mereka.
Saat ini, masalah utama bagi millennial memiliki rumah adalah sulit mengumpulkan uang muka. Walau sebenarnya masalah tidak se-simple itu, meski mampu mengumpulkan DP rumah yang selangit, lolos dari BI Checking pun menjadi kendala, karena sebelumnya mereka sudah terlanjur banyak berhutang kesana-sini memenuhi hasrat bersenang-senang. Pada akhirnya mereka akan lebih memilih tetap melanjutkan kesenangannya jalan-jalan dan makan mahal daripada membeli rumah.
Kabar baiknya, masalah seperti ini Indonesia tidak sendirian, Hong Kong dengan coffin house-nya, rumah seluas peti mati. Inggris dengan masalah hutang pendidikan yang harus dibayar para millennial. Korea Selatan dengan gaya hidup millennial yang mirip dengan Indonesia. Masalah affordable housing adalah masalah semua negara di dunia, dan sebenarnya ini bukan kabar baik, hanya untuk menyenangkan diri sendiri saja bahwa kita tidak sendirian.




