Lobi-lobi Apersi untuk Kuota Rumah Subsidi

By 17 February 2020Featured, Property News

PROPERTY INSIDE – Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) melakukan kunjungan ke berbagai pihak terkait rumah subsidi. Dalam rentang seminggu, asosiasi yang dikomandani Junaidi Abdillah ini bertemu dengan Wakil Presiden, Ma’ruf Amin dan Bambang Soesatyo, Ketua MPR RI.

Ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat pada Sabtu (15/02) lalu, Junaidi mengaku pada keduanya dengan menyampaikan realita yang ada dalam industri properti, khususnya rumah subsidi yang ditujukan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). “Dan ini juga terkait dengan dunia usaha yang ingin ada kepastian. Anggota Apersi adalah pengembang yang kebanyakan membangun rumah subsidi,” terangnya.

Baca juga: Rumah Subsidi, PPDPP Jajaki Alternatif Pembiayaan Perumahan

Untuk itu, Apersi mendesak agar pemerintah lebih kreatif dalam mencari solusi dan menyelesaikan kendala kuota rumah subsidi. Pasalnya, jika dibiarkan berlarut-larut akan mengganggu suplai hunian sederhana bagi MBR. Junaidi mengakui tahun 2019 lalu menjadi catatan tersendiri, kuota di tengah tahun habis, developer pun menangis dan masyarakat terkatung-katung untuk mendapatkan rumah.

Perjumpaan pemgurus Apersi dengan Wapres Ma’ruf Amin dan juga Ketua MPR, Bambang Soesatyo menurut Junaidi agar ada tindak lanjut dari pemerintah terkait kuota rumah subsidi yang disalurkan melalui Fasilitas Likuditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

Menurut Junaidi, hal yang sangat penting adalah kepastian usaha bagi seluruh pengembang di Tanah Air, khususnya mereka yang membangun rumah subsidi bagi MBR. “Begitupun dengan masyarakat, kuota yang minim dan terbatas jumlahnya menyebabkan mereka sulit memiliki rumah,” tegasnya.

Baca juga: Rumah Subsidi, Apersi: Perlu Terobosan Pembiayaan

Kasak-kasuk soal adanya penambahan kuota subsidi (FLPP) yang diyakini akan habis pada April mendatang menurut Junaidi belum jelas. Langkah kongkrit dari pihak terkait pun belum terlihat dan Apersi berharap agar ada terobosan yang dilakukan karena waktu terus berjalan.

“Dibutuhkan kreatifitas, khususnya setingkat dirjen yang bisa menjalankan strategi khusus. Tapi anehnya sampai saat ini belum ada yang dijalankan oleh dirjen terkait dan akibatnya sangat mengganggu jalannya dunia usaha,” tegas Junaidi.

Apersi berharap, bagaimana dana  atau kuota yang terbatas tersebut namun pasokan rumah susbidi tetap berjalan dan bisa terbangun. Junaidi mencontohkan, pemerintah bisa melakukan strategi seperti mengurangi porsi pembiayaan dan memberikan porsi tersebut kepada pihak lain.

Baca juga: Kongres 1 Himperra, Berharap Solusi Pembiayan Rumah Subsidi

“Bisa melibatkan pihak lain, misalnya, porsi pemerintah yang sebelumnya sebesar 70%, dan SMF sebesar 30%, dikurangi menjadi 50%, lalu SMF dan perbankan masing-masing 25%. Memang dampaknya akan terjadi kenaikan suku bunga yang tak jauh dari FLPP namun saya yakin ini akan diserap masyarakat karena mereka membutuhkan,” tegasnya.

Selain itu, Junaidi berharap perbankan juga bisa dilibatkan dengan melakukan inovasi untuk memudahkan pembiayaan rumah subsidi. “Jadi, kalau memang kuota FLPP sulit untuk ditambah, maka pemerintah harus lebih kreatif meluncurkan program-program dan juga ide-ide lainnya untuk membantu dunia usaha dan khususnya MBR.

Sementara Sekretaris Jenderal DPP Apersi Daniel Jumali menyatakan, kalau memang kuota subsidi tidak bisa ditambah, seharusnya ada terobosan seperti simulasi porsi yang sudah dimodifikasi antara pemerintah, SMF dan perbankan, mampu membuat pembiayaan murah dengan bunga hanya 6,5 %.

Baca juga: Citra Landmark, Apartemen Rp300 Jutaan Dari Ciputra Group

“Jadi pemerintah memang harus jujur, apakah dana untuk pembiayaan perumahan subsidi ini ada atau tidak. Kalau memang tidak ada, katakan saja sehingga developer tidak menunggu. Untuk itu perlu solusi dan juga kreatifitas pembiayaan rumah subsidi,” harap Daniel.

Menurut Daniel, bisa juga dengan mengaktifkan kembali Subsidi Selisih Bunga (SSB). Sistem ini lebih murah, contohnya untuk membangun 100 ribu unit rumah subsidi hanya cukup dengan anggaran Rp700 miliar. Lalu jika anggaran yang dikeluarkan mencapai Rp1 triliiun, maka dana itu bisa untuk membangun sebanyak 150 ribu unit.

Untuk itu, Daniel menegaskan dalam waktu dekat  pengurus pusat Apersi akan melakukan pertemuan dengan berbagai pihak terkait  rumah subsidi yang terkendala jumlah kuota. “Cara ini efektif, selain bersilaturahmi, Apersi juga memberikan informasi yang sebenarnya. “Tak hanya dunia usaha yang terganggu tapi masyarakat juga terkendala untuk memiliki rumah impiannya,” jelas Daniel.

Share this news.

Leave a Reply