TOD, Terintegrasi dan Banyak Manfaatnya

By 24 July 2019Property News

PROPERTY INSIDE – Jakarta sebagai Ibu Kota dan juga pusat bisnis menjadi daya tarik bagi masyarakat di sekitarnya. Lihat saja, mobilitas masyarakat  yang berada di Jabodetabek pada jam kerja jumlahnya mencapai 31 juta jiwa.

Nah, untuk mengakomodir aktivitas dan pergerakan yang secara bersamaan tersebut dibutuhkan sistem dan infrastruktur yang memadai. Di Jabodetabek ada sekitar 47,5 juta pergerakan dengan jumlah kendaraan mencapai 24,9 juta.

Alhasil lokasi kerja dan beraktivitas yang jauh dari pemukiman yang beririsan dengan permasalahan kemacetan membuat Jakarta perlu mendapatkan pilihan baru untuk meningkatkan kualitas hidup orang-orang yang ada di dalamnya.

Baca juga: TOD Bukan Tren, Tapi Kebutuhan Peradaban

Di Jakarta sendiri, terdapat 10,2 juta jiwa penduduk dengan luas area 740 km persegi dengan pergerakan mencapai 19,5 juta per hari. Total kerugian yang dihasilkan dari kemacetan di Ibu Kota mencapai Rp65,7 triliun per tahun.

Persoalan tersebut yang mendorong sebuah kota untuk mengembangkan konsep kawasan transit terpadu atau transit oriented development (TOD) dirancang untuk memadukan fungsi transit dengan manusia, kegiatan, bangunan, dan ruang publik.

Tujuannya untuk mengoptimalkan akses terhadap transportasi publik sehingga dapat menunjang daya angkut penumpang. Persoalan di atas menjadi isu aktual dalam acara Konferensi Nasional Rekayasa dan Desain: Implementasi Konsep TOD untuk Pembangunan Kota di Indonesia” yang diselenggarakan oleh Universitas Agung Podomoro, Jakarta Barat beberapa hari lalu.

Baca juga: Patra Jasa, Siapkan 3 Proyek Dengan Konsep Berbeda Di Ibu Kota

Direktur Pengembangan Bisnis PT MRT Jakarta, Ghamal Peris yang hadir sebagai salah satu pembicara mengatakan sejumlah manfaat dengan hadirnya MRT Jakarta di Jakarta.

Menurutnya, akan ada produktivitas kerja karena penurunan waktu tempuh menuju tempat kerja. Juga akan ada efisiensi subsidi BBM karena penurunan penggunaan kendaraan bermotor sepanjang trase MRT Jakarta,

“Selain itu ada penurunan emisi karbon, penurunan angka kecelakaan, penurunan biaya kesehatan karena polusi serta pertumbuhan bisnis dan usaha,” imbuhnya.

Baca juga: Kuota Rumah Subsidi Habis, Developer Menangis

Terkait pengembangan konsep TOD, lanjut ia, akan berkontribusi pada perubahan gaya hidup dan perilaku masyarakat. Selain itu  pengembangan konsep TOD menurut Ghamal melalui laman mrtjakarta, akan berkontribusi pada perubahan gaya hidup dan perilaku masyarakat.

“Kawasan TOD akan berkontribusi terhadap 10,8 juta meter persegi area pengembangan campuran baru, peningkatan nilai kontribusi pajak bumi dan bangunan, kontribusi pajak sewa menyewa, serta kontribusi pajak jual beli properti,” jelasnya.

Baca juga: Pemda Harus Bisa Jembatani Pembangunan Rumah Komunitas

Sedangkan dari aspek kontribusi sosial dan lingkungan, akan mendorong potensi pengembangan hunian terjangkau, lapangan pekerjaan, area aktivitas publik dan ruang terbuka hijau, pengembangan jalur pejalan kaki, serta area aktif sekitar tepian sungai.

Ghamal mencontohkan pengembangan kawasan TOD pertama di Dukuh Atas yang akan menjadi salah satu pusat integrasi sejumlah moda transportasi publik, yaitu MRT Jakarta, bus Transjakarta, kereta Commuterline, kereta Bandara, dan LRT Jakarta.

Share this news.

Leave a Reply