PROPERTY INSIDE – Sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran masih terdaftar dalam lima besar sektor tujuan investasi tertinggi pada Semester I 2020 dengan nilai investasi sebesar Rp 33 triliun.
Angka pencapaian sektor properti ini setara 8,2% dari total investasi semester I 2020 yang mencapai Rp 402,6 triliun. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Bahlil Lahadalia, mengatakan pencapaian total investasi itu secara tahunan naik 1,8 persen dari capaian periode yang sama tahun lalu.
Dalam konferensi video, Rabu, (22/07) Bahlil menyebut bahwa ini adalah riil per proyek yang jelas ada nilai investasinya. “Pencapaian sebesar Rp 402,6 triliun pada paruh pertama 2020 ini telah mencapai 49,3 persen dari target 2020 yang sebesar Rp 817,2 triliun,” jelas Bahlil.
Baca juga: Investasi Properti Asia Pasifik Semester I 2020 Anjlok
Selain sektor properti, 4 sektor lain yang berkontribusi paling besar adalah sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi sebesar Rp 76,3 triliun atau 19 persen, listrik, gas, dan air sebesar Rp 48,5 triliun atau 12 persen.
Sektor industri logam dasar, barang logam, bukan mesin, dan peralatannya Rp 45,2 triliun atau 11,2 persen. Selanjutnya, industri makanan sebesar Rp 29,6 triliun atau 7,4 persen. BKPM mencatat penyerapan tenaga kerja sepanjang Januari-Juni 2020 mencapai 566.194 orang dari 57.815 proyek investasi.
Baca juga: Pasar Properti, Pengamat: Terus Bergerak Jangan Berhenti
Bahlil mengatakan besar Penanaman Modal Dalam Negeri masih lebih tinggi dari Penanaman Modal Asing. Tercatat, realisasi PMDN pada periode ini adalah sebesar Rp 207 triliun atau 51,4 persen dari total investasi dan realisasi PMA Rp 195,6 triliun atau 48,6 persen dari total.
“PMA – PMDN hampir berimbang, secara semesteran PMDN lebih tinggi. Bukan berarti PMA rendah, berarti investasi tidak bagus. Tapi ini kami genjot di dalam dan di luar,” ujar Bahlil.
Berdasarkan angka realisasi tersebut, PMDN tercatat naik 13,2 persen ketimbang tahun lalu, dan PMA turun 8,1 persen dari tahun lalu. Sementara, kalau dilihat berdasarkan wilayah tujuan investasi, Jawa masih lebih tinggi dari luar Jawa.
Tercatat, investasi yang masuk di pulau Jawa mencapai Rp 208,9 triliun atau 51,9 persen dari total. Sementara, investasi dari luar Jawa sebesar Rp 193,7 triliun atau 48,1 persen dari total.









