Tidak Ada Pasokan Lahan Industri Baru Sepanjang tahun 2020

By 12 November 2020Property News

PROPERTY INSIDE – Tidak ada pasokan lahan industrial baru yang masuk ke pasar industrial dari awal tahun 2020 hingga saat ini, sehingga pasokan kumulatif di Jakarta dan sekitarnya masih berada pada 14.990 hektar, demikian laporan yang dilansir konsultan properti global Cushman & Wakefield.

Dalam laporannya, Cushman & Wakefield menyebut bahwa lokasi potensi ekspansi di masa depan mengarah pada bagian timur Jakarta dan sekitarnya, yaitu di Karawang, Purwakarta, hingga Subang, sejalan dengan fasilitas pendukung yang sedang dikembangkan di daerah tersebut.

“Total pasokan pergudangan sewa di Jakarta dan sekitarnya mencapai 1,9 juta meter persegi pada kuartal 3 2020. Sektor pasar ini masih menarik untuk pengembang lokal dan internasional yang menargetkan para pemain logistik, dengan 112.000 meter persegi luasan pergudangan yang diperkirakan akan memasuki pasar hingga 2021,” demikian laporan tersebut menyebutkan.

Wira Agus, Director, Industrial & Land Sales Cushman & Wakefield, menyebutkan bahwa aktivitas logistik modern merupakan salah satu kegiatan yang berjalan lancar pada saat ini, saat dimana work from home masih menjadi pilihan utama para pekerja.

Baca juga: YLKI: Tunda Kenaikan Tarif Tol JORR Saat Krisis

“Industri seperti e-commerce, distribusi dan penyimpanan makanan, juga sektor farmasi sedang mengalami peningkatan dan mendorong permintaan untuk fasilitas logistik di area Jakarta dan sekitarnya. Walau begitu, permintaan end-user belum beralih menjadi investasi di lahan industrial di saat pasar investasi masih terseret oleh ketidakpastian di tengah pandemi COVID-19,” jelas Wira.

Para investor, lanjut Wira, masih berhati-hati untuk mengeluarkan modal. Meski begitu, kabar baik yang beredar di negara sekitar bahwa vaksin akan ditemukan dalam waktu dekat dapat meningkatkan sentimen publik.

Sementara untuk transaksi penjualan lahan selama kuartal 3 ini tercatat sebanyak 26 hektar, menurun 23% dari kuartal sebelumnya. Dampak COVID-19 mempengaruhi permintaan terhadap lahan industrial. Transaksi ini (yang datang dari sektor otomotif, F&B, dan logistik) sebagian besar berlokasi di koridor timur, dengan satu transaksi yang relatif lebih kecil di Serang.

Sedangkan untuk pergudangan, dilaporkan tingkat hunian berada pada 89,5% dari total persediaan ruang gudang pada akhir September. Sejak dimulainya pandemi, perubahan kegiatan menuju work from home, pembatasan sosial di Jakarta dan sekitarnya, juga penutupan pusat perbelanjaan di awal pandemi, menyebabkan permintaan ruang pergudangan dari perusahaan logistik (termasuk e-commerce) meningkat. Sektor industri lainnya, seperti F&B dan otomotif, juga turut berkontribusi untuk menjaga tingkat hunian pergudangan yang baik.

Baca juga: Hari Kota Dunia, Infrastruktur Mendorong Terwujudnya Kota Layak Huni

Seperti beberapa kuartal sebelumnya, harga rata-rata lahan industrial masih belum mengalami perubahan pada kuartal ketiga ini. Hal ini mungkin menunjukkan bahwa harga dari estat yang ada saat ini sudah cukup ‘jenuh’. Kenaikan harga sebesar 1,0% dari kuartal sebelumnya sempat tercatat, kini berada di Rp 2.590.000,00 per meter persegi. Namun, hal ini hanya terjadi karena penguatan Rupiah terhadap Dolar AS dalam kuartal ini.

Harga sewa rata-rata untuk pergudangan di Jakarta dan sekitarnya mencapai Rp 80.000,00 per meter persegi per bulan. Harga sewa rata-rata ini berkisar mulai Rp 65.000,00 sampai Rp 86.000,00, dengan rata-rata terendah berlokasi di Bogor dan tertinggi di Jakarta.

Share this article:

Leave a Reply