PROPERTY INSIDE – Ditemui di ruang kerjanya yang baru di kawasan Serpong, Banten, seperti biasa Alvin Andronicus selalu ramah dan bersemangat saat berbicara dengan lawan bicaranya. Walau pagi itu suaranya sedikit parau.
“Ya, suara sedikit hilang karena beberapa hari ini banyak metting hingga malam,” imbuh Alvin yang kini menjabat sebagai marketing director Paramount Land sejak tengah Juni 2019 lalu.
Penghujung Semester I dan menapaki Semester II, Alvin melihat industri properti mulai bergerak dan menambah kecepatan bisnisnya. “Kondisi politik yang terus membaik membuat pasar properti perlahan tensinya mulai meninggi,” imbuhnya.
Baca juga: Alvin Andronicus : Lihat Peluang, Ciptakan Peluang Dan Menarik Peluang
Sebelumnya, pada dua tahun belakangan kondisi sedikit pasar rada lesu. Paling mudah melihatnya kata Alvin adalah di pasar sekunder, banyak kantor broker tutup. Dan beruntungnya, yang bisa bertahan karena kantor broker tersebut banyak bermain pada produk premier.
Nah, sejak awal 2019 ini pergerakan pasar sudah mulai terasa. Namun ada perbedaan dari tahun-tahun sebelumnya. Pasar didominasi oleh produk-produk untuk end user, segmen menegah bawah. “Kebutuhan di kelas ini besar dan sementara segmen investor mereka melakukan wait and see,” jelasnya.
Alhasil, produk yang dilempar ke pasar kebanyakan produk untuk end user, di bawah Rp1 miliar. Beberapa developer pun melakukan penetrasi pasar untuk segmen ini. Seperti Paramount Land pada Maret lalu meluncurkan Corral @Malibu Village.
Baca juga: Pollux Properti, Tahun Ini Target Marketing Salesnya Rp1,98 Triliun
Produk ini dikonsep dan menyasar milenial dan pasangan muda dengan konsep rumah 2 lantai bergaya modern minimalis. Dengan harga mulai Rp700 jutaan Corral @Malibu Village mendapat respon luar biasa dari konsumen.
Menariknya, produk untuk segmen end user ini pemainnya juga banyak dan ketat kompetisinya. Perlu konsep produk yang berbeda dan tak hanya sebatas perang harga. Menurut Alvin, dari sisi lokasi saja sudah beda, faktor ini bisa di eksplor dan diinformasikan pada konsumen sebagai kelebihan.
“Selain konsep, sebagai developer kita juga harus bisa membungkus produk tersebut agar benar-benar menjadi pilihan pertama konsumen dalam membeli rumah impiannya,” tegas Alvin.
Baca juga: Summarecon: 2019 Properti Pulih, Target Rp4 Triliun
Dan yang terpenting, terus memberikan nilai lebih bukan hanya sekedar memberikan diskon besar, hadiah pembelian unit dan gimmick marketing saja. “Konsumen saat ini lebih jeli melihat produk, bukan sebatas tawaran harga dan soal ini konsumen akan dengan mudah membandingkannya,” imbuhnya.
Menurut Alvin, penguatan produk bisa dikemas. “Brand image produk harus diciptakan, mulai dari kelebihan tiap rumah yang ditawarkan kepada konsumen, fasilitas internal dan eksternal. Dan juga yang paling penting pergerakan nilai investasi produk yang akan dibeli konsumen dalam beberapa tahun ke depan,” tegas Alvin.
Konsumen atau end user menurut Alvin harus diarahkan terkait nilai produk yang dibelinya. “Lebih diedukasi bahwa properti adalah produk investasi yang nilainya cepat bergerak. Untuk itu, edukasi terkait investasi harus terus dilakukan,” imbuhnya.
Baca juga: Pasar Lesu, Developer Harus Merespon Pasar
Dan produk properti seperti apa yang nilainya cepat terkerek tentunya produk yang memiliki kelebihan secara internal dan eksternal. Dan dengan cara seperti ini tentunya lebih mudah merebut pasar, tentunya dengan menanamkan brand image yang memiliki banyak kelebihan.
Tentunya, seperti Paramount diuntungkan dnegan dimensi pengembangan kawasan skala kota yang sudah berkembang pesat dengan ragam fasilitasnya, mulai dari kebutuhan primer dan sekunder tentunya akan lebih mudah menanamkan brand image.




